kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 -1,49%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

INSA Sebut Krisis Laut Merah Berdampak Terhadap Eksportir


Rabu, 24 Januari 2024 / 21:06 WIB
INSA Sebut Krisis Laut Merah Berdampak Terhadap Eksportir
ILUSTRASI. Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto. INSA Sebut Krisis Laut Merah Berdampak Terhadap Eksportir.


Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto mengungkapkan adanya dampak krisis laut merah terhadap nasib eksportir.

Asal tahu saja, krisis Laut Merah dipicu oleh perang Israel dan kelompok militan Palestina Hamas yang makin meluas.

Carmelita menyebut dampak yang dirasakan oleh eksportir yakni dengan menurunnya permintaan ekspor ke Eropa. "Karena biaya produksi jadi naik sekitar 30% sampai 40%," ujar Carmelita Hartoto saat dihubungi Kontan, Rabu (24/1).

Baca Juga: Aktivitas Industri di Zona Eropa Masih Kontraksi Namun Lebih Lambat

Pasalnya, harga jual semakin bertambah dan terjadinya penurunan volume produksi terhadap beberapa komiditi salah satunya furniture.

"Harga jual jadi bertambah, dan penurunan volume produksi. Komoditi itu di antaranya garment, furnitur, elektronik, komponen otomotif dan turunan palm oil," ungkapnya.

Di sisi lain, kata dia, krisis laut merah belum berdampak secara langsung terhadap importir Indonesia.

Diketahui, sebelumnya Carmelita mengakui adanya kenaikan tarif jasa angkutan kapal atau freight rate akibat krisis laut merah.

Baca Juga: Ragam Beleid Pajak Incar Pasar Otomotif

"Memang krisis laut merah berdampak pada kenaikan freight untuk rute Asia ke Europa dan sebaliknya, karena kenaikan biaya operasi akibat memindahkan rute melalui Afrika Selatan," ujar dia.

"Bagi importir Indonesia, kelihatannya belum berdampak signifikan, karena di samping import dari Europa sangat sedikit, dan juga ada alternatif dari negara lain untuk kebutuhan impornya," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×