kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Insentif Mampu Pacu Ekspansi Bisnis Mobil Listrik di Indonesia


Selasa, 02 April 2024 / 21:33 WIB
Insentif Mampu Pacu Ekspansi Bisnis Mobil Listrik di Indonesia
ILUSTRASI. Pemilik mobil listrik mengisi daya pada?bengkel diler?di?Pondok Indah, Jakarta, Senin (18/3/2024). Sejumlah pabrikan otomotif global gencar berinvestasi mengembangkan ekosistem mobil listrik di Indonesia. Harapannya, proses lokalisasi ini akan membuat harga mobil listrik di Tanah Air lebih terjangkau bagi banyak konsumen.?(KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen otomotif global tidak henti-hentinya merangsek ke pasar mobil listrik Indonesia. Hal ini turut didukung oleh berbagai insentif dari pemerintah yang mendorong peningkatan investasi di sektor mobil listrik.

Asal tahu saja, belum lama ini pemerintah memberikan insentif berupa pembebasan bea masuk dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) ditanggung pemerintah untuk impor mobil listrik utuh atau completely built up (CBU) melalui Peraturan Menteri Investasi (Permeninves) No. 6 Tahun 2023.

Insentif yang berlaku sampai akhir 2025 tersebut hanya diberikan kepada produsen otomotif yang berkomitmen memproduksi mobil listrik di Indonesia.

Baca Juga: Merek Asal China BAIC Ikut Ramaikan Pasar Otomotif Indonesia

Salah satu produsen yang menyatakan bakal memanfaatkan insentif impor mobil listrik CBU adalah Citroën asal Prancis.

Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piauw menyampaikan, Citroën telah memperoleh persetujuan dari Kementerian Investasi guna mengimpor mobil listrik Citroën e-C3 secara CBU dari Prancis mulai pertengahan April nanti.

Citroën disebut memperoleh kuota impor mobil listrik CBU dengan bantuan insentif sebanyak 4.800 unit. "Namun, kami belum tentu menyerap seluruh kuota impor mobil listrik yang diberikan," kata Tan Kim Piauw ketika ditemui Kontan.co.id, Selasa (2/4).

Sejauh ini, Citroën sudah menerima sekitar 1.000 pesanan untuk model e-C3 sejak pertama kali diperkenalkan saat ajang GIIAS 2023.

Dengan adanya insentif impor mobil listrik CBU, Citroën mengklaim harga mobil listrik e-C3 menjadi lebih terjangkau dan kompetitif di pasar, yakni senilai Rp 377 juta.

Selain itu, Citroën dipastikan akan memproduksi model e-C3 secara completely knock down (CKD) di fasilitas milik Indomobil Group di Purwakarta, Jawa Barat mulai awal Juli 2024.

Ini merupakan bentuk komitmen Citroën kepada pemerintah atas pemanfaatan insentif impor mobil listrik CBU. "Sekarang kami sedang dalam fase uji coba sebelum produksi massal dilakukan," imbuh Tan Kim Piauw.

Baca Juga: Citroën Memanfaatkan Insentif Impor Mobil Listrik CBU

Ekspansi Merek China

Insentif tersebut secara langsung dan tidak langsung memang berdampak pada kehadiran merek-merek mobil listrik baru di Indonesia belakangan ini. Terbaru, GAC Aion asal China resmi masuk ke Indonesia, lagi-lagi dengan menggandeng Indomobil Group lewat anak usahanya PT Indomobil Energi Baru.

Terdapat dua model mobil listrik yang akan dijual GAC Aion di Indonesia pada 2024, yakni GAC Aion Y Plus dan Hyper HT. GAC Aion juga berencana memproduksi massal mobil listriknya di Tanah Air.

Baca Juga: Daimler Commercial Vehicles (DCVI) Sediakan Bengkel Siaga Selama Mudik Lebaran

Merek China lainnya, yaitu BAIC juga bakal masuk ke pasar Indonesia dengan menggandeng PT JIO Distribusi Indonesia (JDI). BAIC akan memasarkan dua model SUV berbasis Internal Combustion Engine (ICE) yaitu BAIC BJ-40 dan BAIC X55-II.

Head of PR & Sales Training JIO Distribusi Indonesia Fedy Dwi Parileksono mengatakan, BAIC juga sedang dalam pembicaraan intensif dengan pihak prinsipal terkait persetujuan penjualan mobil listrik di Indonesia. Tidak hanya itu, BAIC juga sedang melakukan pembicaraan tahap awal untuk melakukan produksi mobil listrik secara lokal pada masa mendatang.

"Kami sudah mengerucutkan pilihan pada dua tempat produksi untuk melakukan proses manufaktur lokal dan sekarang sedang tahap finalisasi," ungkap Fedy, Selasa (2/4).

Asal tahu saja, dua calon tempat produksi mobil listrik BAIC yang dimaksud adalah fasilitas milik Gaya Motor dan Handal Indonesia Motor.

Lantaran BAIC masih dalam proses penjajakan penjualan mobil listrik ke Indonesia, pabrikan ini belum memanfaatkan program insentif impor mobil listrik CBU dari pemerintah.

Baca Juga: Berapa Lama Pengisian Charge Mobil Listrik di SPKLU? Cek Juga Biayanya
Sementara itu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut, tidak sembarangan pabrikan dapat menikmati insentif impor mobil listrik CBU mengingat adanya sejumlah syarat, salah satunya komitmen investasi produksi mobil listrik di Indonesia.

Terlepas dari itu, maraknya merek-merek mobil listrik baru yang terbantu oleh berbagai insentif jelas akan membuat persaingan pasar otomotif nasional semakin ketat.

"Pada akhirnya konsumen memiliki pilihan merek kendaraan yang lebih banyak," tandas Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto, Selasa (2/4).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×