Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri sepeda motor listrik masih menanti kepastian pemerintah terkait program insentif pembelian motor listrik. Hingga kini, skema final, nilai insentif, mekanisme, hingga waktu pelaksanaan program tersebut belum ditetapkan secara resmi.
Public Relation & Event Executive Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Riniwaty Sinaga mengatakan, kepastian kebijakan menjadi kebutuhan utama industri saat ini. Pasalnya, waktu efektif pelaksanaan program insentif pada 2026 semakin terbatas.
"Yang paling penting saat ini adalah adanya kepastian kebijakan," kata Riniwaty kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Baca Juga: Famon Awal Bros Sedaya (PRAY) Optimistis Target Kinerja Tercapai pada Akhir Tahun
Menurut dia, implementasi insentif membutuhkan waktu untuk sosialisasi kepada masyarakat, penyiapan sistem dan administrasi, kesiapan industri serta dealer, hingga proses klaim dan settlement.
Memasuki awal Desember, proses transaksi juga praktis sudah harus mulai diselesaikan untuk kebutuhan settlement akhir tahun. Karena itu, semakin lambat keputusan dan teknis pelaksanaan ditetapkan, semakin terbatas ruang untuk memberikan dampak terhadap pasar tahun ini.
Riniwaty menilai kepastian juga penting untuk mencegah konsumen menunda pembelian. Sebab, wacana insentif yang telah muncul tetapi belum diikuti kepastian mengenai nilai dan mekanisme berpotensi menciptakan efek tunggu atau wait and see.
Padahal, insentif berperan dalam meningkatkan keterjangkauan (affordability) sekaligus memperkecil kesenjangan harga antara motor listrik dan motor konvensional.
"Pengumuman atau wacana insentif yang muncul lebih dahulu sementara mekanisme, nilai, waktu pelaksanaan dan teknisnya belum siap justru berpotensi membuat konsumen menunda pembelian," jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, kebijakan yang semestinya mendorong pertumbuhan pasar justru berpotensi memperlambat transaksi. Karena itu, AISMOLI meminta pemerintah segera menentukan skema, anggaran, target penerima serta waktu implementasi apabila program tersebut memang akan dijalankan.
Di sisi lain, AISMOLI menyadari pertumbuhan pasar motor listrik tidak bisa selamanya bergantung pada subsidi pembelian. Jika insentif kembali tertunda atau tidak jadi diberikan, ekspektasi pertumbuhan pasar motor listrik 2026 berpotensi terdampak, terutama karena sebagian konsumen sudah telanjur menunggu kepastian.
Untuk jangka panjang, AISMOLI mendorong pemerintah mempertimbangkan dukungan dari sisi industri dan rantai pasok. Kebijakan tersebut dapat diarahkan untuk menekan biaya produksi, memperkuat lokalisasi komponen dan meningkatkan daya saing produk.
Dengan begitu, keterjangkauan harga motor listrik dapat terbentuk secara lebih berkelanjutan dan tidak sepenuhnya bergantung pada insentif pembelian setiap tahun.
"Tujuan kita bukan hanya meningkatkan angka penjualan kendaraan listrik. Kita ingin motor listrik menjadi pilihan ekonomi yang rasional bagi masyarakat," ujar Riniwaty.
Menurut dia, semakin luas penggunaan motor listrik, manfaatnya juga dapat meluas, mulai dari pengurangan konsumsi BBM dan beban subsidi energi hingga peningkatan penggunaan energi domestik serta penguatan industri nasional.
Karena itu, AISMOLI berharap pemerintah segera memberikan kepastian. Jika insentif masih akan dijalankan pada tahun ini, pelaksanaannya perlu memiliki waktu yang cukup agar dapat memberikan dampak optimal.
Sebaliknya, jika tidak memungkinkan, pemerintah perlu menyampaikan keputusan tersebut secara jelas sehingga industri dapat menyusun strategi pasar tanpa berada dalam kondisi wait and see.
Baca Juga: Bahlil Ungkap UC Rusal Bakal Bangun Pabrik Alumina di Kalimantan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














