Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga menembus di atas level Rp 18.000 berpotensi memberikan keuntungan bagi PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD).
Pasalnya, produsen furnitur dan produk kayu ini mengandalkan pasar ekspor sebagai sumber utama pendapatan dengan kontribusi mencapai sekitar 95%.
Investor Relation WOOD Ravenal Arvense mengatakan, pelemahan rupiah memberikan dampak positif bagi kinerja perseroan.
Hal ini lantaran mayoritas penerimaan WOOD berasal dari transaksi ekspor dalam dollar AS, sementara sebagian besar biaya operasional perusahaan menggunakan rupiah.
Baca Juga: Rupiah Terancam Kian Melemah, BI Hadapi Dilema Suku Bunga Usai The Fed Beri Sinyal
“Pelemahan rupiah memberikan dampak positif bagi WOOD, mengingat sekitar 95% pendapatan perseroan berasal dari ekspor dan mayoritas penerimaan menggunakan dolar AS, sementara sebagian besar biaya berbasis rupiah,” ujar Ravenal kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan nilai pendapatan ekspor ketika dikonversikan ke rupiah.
Di sisi lain, struktur biaya yang didominasi mata uang domestik membuat pelemahan rupiah berpeluang mendukung margin dan profitabilitas perseroan.
Menurut Ravenal, komposisi pendapatan dan biaya tersebut juga memberikan natural hedge bagi perseroan dalam menghadapi volatilitas nilai tukar.
Dengan penerimaan dolar AS yang dominan dan biaya operasional berbasis rupiah, WOOD memiliki eksposur positif terhadap pelemahan mata uang domestik.
Dari sisi biaya produksi, ketergantungan WOOD terhadap bahan baku impor relatif rendah. Sebagian besar kebutuhan bahan baku perseroan dipenuhi dari sumber dalam negeri sehingga pelemahan rupiah tidak memberikan tekanan berarti terhadap biaya produksi.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Tembus Rekor Terlemah, Ekonom Sebut BI Mulai Kehabisan Nafas
“Ketergantungan WOOD terhadap bahan baku impor relatif rendah karena sebagian besar kebutuhan bahan baku bersumber dari dalam negeri. Karena itu, pelemahan rupiah tidak memberikan tekanan yang berarti terhadap biaya produksi,” jelas Ravenal.
Meski demikian, perseroan tetap menjaga efisiensi produksi dan disiplin biaya untuk mempertahankan margin di tengah dinamika nilai tukar. Strategi tersebut menjadi penting agar potensi keuntungan dari pelemahan rupiah dapat mendukung kinerja operasional perseroan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












