Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mencatatkan kinerja keuangan yang bervariasi sepanjang sembilan bulan tahun ini. Pendapataan perusahaan tumbuh signifikan, tetapi di saat yang sama emiten di bidang pertambangan nikel ini merugi.
Melansir laporan keuangannya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), IFSH meraup pendapatan Rp 972,18 miliar, tumbuh hingga 45,35% year-on-year (YoY) dari Rp 668,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun penjualan perusahaan tersebut berasal dari pihak ketiga sebesar Rp 1,01 triliun, yang dikurangi oleh penalty sebesar Rp 46,5 miliar.
Baca Juga: Laju Ekspor Melambat, Prospek Emiten Nikel Tersumbat
Namun di sisi lain, bottom line menunjukkan laba bersih perusahaan dari Rp 19,38 miliar pada Januari-September 2025 berbalik menjadi rugi sebesar Rp 1,95 miliar pada periode yang sama tahun ini.
Di tengah kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan IFSH tercatat sebesar Rp 580,94 miliar, naik 14,02% YoY dari Rp 509,52 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, laba bruto perusahaan meningkat menjadi Rp 391,24 miliar, dibandingkan Rp 159,28 miliar pada Januari-September 2025.
Sejalan dengan itu, laba usaha IFSH juga melonjak menjadi Rp 214,14 miliar, dari sebelumnya Rp 56,09 miliar. Namun, perusahaan mencatat kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 71,62% YoY menjadi Rp 177,09 miliar.
Tekanan terhadap kinerja bottom line juga terlihat dari pos pendapatan dan beban lain-lain. Pada Januari-September 2026, IFSH membukukan beban lain-lain sebesar Rp 143,68 miliar, berbalik dari pendapatan lain-lain sebesar Rp 1,21 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Harga Nikel Anjlok, Cek Dampaknya ke Saham Emiten Nikel
Meski laba sebelum pajak masih tumbuh 30,14% YoY menjadi Rp 74,03 miliar, beban pajak penghasilan perusahaan meningkat menjadi Rp 69 miliar, dari Rp 19,28 miliar pada tahun sebelumnya.
Alhasil, laba periode berjalan IFSH tercatat sebesar Rp 5,03 miliar, turun dari Rp 37,60 miliar pada Januari-September 2025. Sementara itu, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih berbalik menjadi rugi Rp 1,95 miliar, dari sebelumnya laba bersih Rp 19,38 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














