Reporter: Herlina KD |
JAKARTA. Proyek refinery yang direncanakan oleh Kementerian Perindustrian tampaknya akan segera terwujud. Setidaknya, untuk tahap awal, Kementerian Perindustrian sudah mendapatkan komitmen suplai pasokan bahan baku minyak mentah yang berasal dari Iran untuk proyek refinery di Banten.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, saat kunjungannya ke Iran, ia bertemu dengan Menteri Pertambangan dan Energi Iran. "Pemerintah Iran telah berjanji akan menyuplai minyak mentah sebanyak 300.000 barel per hari untuk refinery di Banten," kata Hidayat, Rabu (9/6).
Dengan demikian, salah satu refinery dari tiga refinery yang direncanakan akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan nafta untuk industri oleokimia dalam negeri sudah bisa terealisasi.
Menurut Hidayat, sebelumnya Iran telah menyepakati perjanjian pembangunan refinery ini dengan pertamina sekitar empat tahun yang lalu. Nantinya Indonesia akan menyiapkan tanahnya, sedangkan modalnya juga akan dilakukan patungan (joint) antara berbagai pihak.
Pembangunan refinery ini sangat penting bagi Indonesia, sebab selain bisa menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) yang dibutuhkan oleh Pertamina juga akan bisa memenuhi kebutuhan nafta untuk menghasilkan bahan baku olefin.
Selama ini, Hidayat bilang kebutuhan nafta dalam negeri mencapai 2,7 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar masih impor. Sehingga, pembangunan refinery ini nantinya akan bisa mengurangi ketergantungan impor nafta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













