Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perlambatan pasar properti residensial mulai memunculkan risiko baru bagi konsumen, yakni membeli rumah dengan harga terlalu mahal atau overpay di tengah tren harga yang mulai stagnan.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat penjualan rumah baru pada triwulan I-2026 mengalami penurunan baik secara tahunan maupun kuartalan. Perlambatan terutama terjadi pada rumah tipe kecil dan rumah tipe besar.
Di sisi lain, pertumbuhan harga rumah juga mulai melandai. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada periode yang sama tercatat hanya tumbuh 0,62% secara tahunan menjadi 110,60 poin, lebih rendah dibanding periode sebelumnya sebesar 0,83%.
Baca Juga: Ekonom: Platform OTT Berpotensi Raup hingga Rp 3 Triliun dari Siaran Piala Dunia 2026
Riset Colliers Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan harga rumah tipe kecil dan menengah hanya berkisar 0,3%-0,5% secara kuartalan, kecuali di kawasan yang terdorong proyek infrastruktur seperti jalan tol dan kereta.
Property Valuer & Advisor Ni Luh Asti Widyahari menilai kondisi pasar yang cenderung stagnan justru meningkatkan risiko konsumen membeli rumah di atas harga pasar karena minimnya pemahaman mengenai valuasi properti.
“Bayangkan seseorang membeli rumah seharga Rp4,2 miliar. Beberapa bulan kemudian, terdapat properti dengan karakteristik serupa di kawasan yang sama dipasarkan di kisaran Rp3,6 miliar,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (22/5).
Menurut Asti, kondisi tersebut menunjukkan potensi overpay hingga Rp600 juta yang dapat berujung pada keputusan finansial yang buruk.
Ia menilai banyak konsumen masih membeli properti berdasarkan faktor emosional seperti desain, lokasi, dan fasilitas tanpa memahami metode penilaian harga yang objektif.
“Tanpa itu maka kita membeli berdasarkan asumsi dan bukan data,” katanya.
Asti mengatakan risiko overpay sering kali baru disadari setelah transaksi berjalan dan uang muka maupun cicilan sudah dibayarkan.
Dalam kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, konsumen disebut perlu lebih cermat melakukan pengecekan harga pasar dan membandingkan properti serupa di kawasan yang sama.
Menurut dia, pendekatan berbasis data menjadi penting agar konsumen mengetahui kisaran harga wajar sebelum melakukan transaksi.
Asti menilai profesi penilai properti kini semakin dibutuhkan untuk membantu masyarakat memahami nilai riil sebuah aset properti.
“Keputusan membeli rumah adalah satu keputusan finansial terbesar dalam hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan pembeli perlu memiliki pemahaman terkait metode valuasi sederhana, strategi negosiasi harga, hingga waktu yang tepat untuk membeli atau menunda transaksi.
Di tengah perlambatan pasar properti, konsumen juga dinilai memiliki ruang negosiasi lebih besar dibanding saat pasar sedang bullish atau mengalami kenaikan harga agresif.
Baca Juga: Indonesia Kecualikan Nikel Pig Iron & Beberapa Produk Sawit dari Sentralisasi Ekspor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













