kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Jalan Tol Cibitung-Cilincing ditargetkan beroperasi kuartal II 2020


Kamis, 10 Oktober 2019 / 17:16 WIB

Jalan Tol Cibitung-Cilincing ditargetkan beroperasi kuartal II 2020
Proyek pembangunan jalan Tol Cibitung-Cilincing

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Demi meningkatkan efisiensi jalur logistik, PT Pelindo II melalui anak usahanya PT Akses Pelabuhan Indonesia menginisiasi pembangunan tol Cibitung – Cilincing.

Tol ini terintegrasi dengan Jalan Tol Jakarta – Cikampek di mana exit Cibitung dan Kawasan Industri bakal menjadi simpang susun yang mengintegrasikan kedua tol tersebut. Sementara sampai Cilincing, jalan tol ini bakal terhubung langsung dengan Pelabuhan Tanjung Priok.

Baca Juga: Banten West Java: Tanjung Lesung mulai pulih dan siap sambut wisatawan kembali

Sebelumnya, Jalan Tol Cibitung – Cilincing ditargetkan beroperasi pada akhir tahun 2019. Namun, kendala rumit di lapangan membuat selesainya proyek ini agak mundur menjadi di kuartal II 2020 nanti.

“Kompleksitas proyek ini sangat tinggi. Kami menilai walau mundur bisa tetap menjaga jadwal,” kata Direktur Operasi PT Akses Pelabuhan Indonesia Ari Sumaryono pada Kamis (10/10).

Proyek Cibitung – Cilincing bakal memiliki lima simpang susun. Kata Ari, simpang susun yang mengintegrasikan dengan Cikampek merupakan yang paling rumit. Sebab, terdapat empat proyek sekaligus di titik itu dan koordinasi antar proyek yang berjalan musti berjalan mulus.

Maklum, di KM 24 Cikampek tempat proyek itu berlangsung terdapat proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung, Tol Jakarta – Cikampek elevated, Tol Cimanggis – Cibitung, termasuk Tol Cibitung – Cilincing sendiri.

Simpang susun Cibitung – Cilincing ini dibangun di bawah Jalan Tol Jakarta – Cikampek elevated dan landasan Kereta Cepat Jakarta – Bandung, tapi juga melintang di atas Jalan Tol Jakarta – Cikampek yang kini beroperasi.

Baca Juga: Akhir Oktober, Waskita Karya (WSKT) dapat pembayaran empat proyek turnkey Rp 2,52 T

Pimpinan Proyek Tol Cibitung Cilincing PT Akses Pelabuhan Indonesia Yaya Ruhiya menambahkan, kondisi di lapangan membuat adanya proyek sepanjang 35 kilometer itu harus mengganti fondasi dasarnya. “Karena sekitar 25 kilometer jalan tol ini, dibangun di atas tanah lembut (semacam rawa). Kedalaman tanah lembut hingga 25 meter,” katanya.

Karenanya, menurut Yaya, sepanjang 25 kilometer pembangunan jalan tol bakal menggunakan fondasi slab on pile. Slab on pile, semacam pilar fondasi yang ditancapkan ke dalam tanah lembut itu hingga mencapai tanah keras di dalam. Sisanya , 1,8 kilometer dibangun elevated dan sekitar 6 kilometer dibangun dengan fondasi timbunan.

Penggunaan slab on pile membuat nilai investasi proyek itu menjadi lebih mahal. Harganya, kata Yaya bisa dua kali lipat dibanding fondasi timbunan. Namun, dengan kontur tanah yang lembut itu, diyakini slab on pile ke depannya tidak memakan biaya perawatan yang mahal. “Kalau timbunan maintenancenya bisa menjadi sangat mahal,” tambahnya.


Reporter: Harry Muthahhari
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan


Close [X]
×