kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

JLL: Permintaan properti ritel ditopang oleh sektor mamin dan hiburan


Kamis, 22 Maret 2018 / 17:03 WIB

JLL: Permintaan properti ritel ditopang oleh sektor mamin dan hiburan
ILUSTRASI. Restoran Casa de PERI

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan properti ritel berubah. Mal bukan lagi tempat berbelanja, tapi tempat rekreasi dan makan.

Menurut laporan kuartal IV-2017 yang dirilis Jones Lang LaSalle (JLL) yang dikutip Kontan.co.id, kondisi pasar mal berubah akibat perubahan gaya belanja masyarakat. Beberapa departement store tutup pada paruh kedua 2017.

Saat ini, permintaan ritel mal ditopang oleh sektor makanan dan minuman (mamin) juga hiburan. Tingkat kunjungan mal yang menawarkan fasilitas ritel dengan pilihan tempat makan dan minum serta hiburan yang atraktif masih cenderung tinggi.

Menurut JLL, tren ini masih berlanjut pada tahun mendatang. Sebab, pembeli lebih memilih berbelanja secara online karena penawaran e-commerce Indonesia jadi lebih canggih.

Sementara, dari sisi pasokan jumlahnya tak banyak berubah berkisar 80.000 m²-90.000 m². Meski sempat ada moratorium pembangunan mal di Jakarta, tak akan berpengaruh. Di Jakarta, pasokan mal masih akan ditopang dengan proyek perluasan mal Pondok Indah selama lima tahun ke depan.

Selain itu, beberapa kota di luar Jakarta masih terbuka dan menawarkan peluang ekspansi. Tahun depan, para pengembang akan terus menggarap peluang di kota-kota lapis kedua dan ketiga seperti Tangerang, Bekasi dan kota lainnya. Misalnya, pasokan dari mal AEON Mal Serpong yang selesai dibangun pada 2015 silam.

Tahun 2019, JLL memprediksi pasokan pasar ritel bertambah di atas 100.000 m². Tapi, permintaannya menyusut hanya sekitar 50.000 m².

Di sisi lain, potensi pasar penyewaan properti di sektor ritel ini masih akan tumbuh sebesar 3,3%. Karena permintaan sewa masih akan datang dari sektor makanan dan minuman juga penyewa yang tertarik membuka lahan hiburan di mal.

Permintaan juga masih datang dari peritel grup besar seperti Mitra Adi Perkasa (MAP) yang memiliki 150 merek. Namun, rata-rata peritel besar ini akan membayar sewa lebih murah dari harga pasaran. JLL memprediksi harga sewa mal akan tumbuh sebesar 5% saja dalam lima tahun ke depan.


Reporter: Dian Sari Pertiwi
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×