kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Kadin Minta Kualitas Pertumbuhan Ekonomi 2027 Harus Didorong dari Sektor Riil


Jumat, 14 Agustus 2026 / 17:15 WIB
Kadin Minta Kualitas Pertumbuhan Ekonomi 2027 Harus Didorong dari Sektor Riil
ILUSTRASI. Neraca perdagangan Januari-Juni 2026 (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyambut optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini. Namun, dunia usaha menilai kualitas pertumbuhan akan menjadi perhatian utama memasuki 2027.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang kuat menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga di tengah ketidakpastian global.

"Namun bagi dunia usaha, yang perlu kita lihat bukan hanya berapa tinggi pertumbuhannya, tetapi dari mana pertumbuhan itu berasal dan seberapa luas manfaatnya," ujar Erwin kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Baca Juga: APPBI: Prospek Ritel 2027 Bergantung pada Daya Beli Masyarakat

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas perlu tercermin dalam peningkatan konsumsi masyarakat, utilisasi kapasitas industri, investasi produktif, ekspor bernilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja formal.

Erwin menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis menunjukkan seluruh sektor usaha berada dalam fase ekspansi yang sama. Sejumlah sektor masih menghadapi tekanan daya beli, biaya energi dan logistik, suku bunga dan pembiayaan, hingga ketidakpastian pasar global.

Karena itu, indikator penting yang perlu diperhatikan adalah apakah pertumbuhan ekonomi mulai mendorong perusahaan menambah kapasitas produksi, melakukan investasi baru, dan merekrut tenaga kerja.

"Kalau tiga hal itu semakin kuat pada semester II, maka kita mempunyai fondasi yang jauh lebih baik untuk memasuki 2027," katanya.

Terkait 121 kebijakan transformatif yang telah dijalankan pemerintah selama 663 hari atau sekitar 21 bulan, Erwin mengapresiasi berbagai terobosan yang dilakukan pemerintah.

Dari perspektif dunia usaha, sejumlah agenda yang dinilai berdampak antara lain hilirisasi dan industrialisasi, ketahanan pangan dan energi, deregulasi, percepatan investasi, serta pembukaan akses pasar melalui diplomasi ekonomi dan perjanjian perdagangan.

Menurut Erwin, kebijakan seperti B50 juga berpotensi membangun permintaan domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Baca Juga: PHE Garap Potensi Natural Hydrogen di Ampana, Bidik Peran Lead Operator

Namun memasuki 2027, fokus pemerintah dinilai perlu bergeser dari banyaknya kebijakan menuju kualitas implementasi dan konsistensi kebijakan.

"Dunia usaha membutuhkan regulasi yang tidak sering berubah, koordinasi pusat-daerah yang lebih baik, perizinan yang benar-benar sederhana di lapangan, serta kepastian mengenai energi, perpajakan, impor bahan baku dan kebijakan perdagangan," ujarnya.

Erwin juga menilai kebijakan pemerintah perlu semakin banyak menghasilkan crowding-in terhadap investasi swasta. Menurutnya, APBN dan investasi pemerintah seharusnya menjadi katalis agar modal swasta dapat masuk lebih besar.

Karena itu, ia menyebut ukuran keberhasilan transformasi ekonomi pada 2027 dapat dilihat dari investasi baru yang masuk, pertumbuhan industri baru, peningkatan ekspor bernilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja produktif.

Memasuki 2027, Kadin melihat sejumlah sektor berpeluang menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Sektor tersebut antara lain manufaktur dan hilirisasi, pangan dan agroindustri, energi termasuk energi terbarukan, ekonomi digital dan data center, konstruksi dan infrastruktur, serta jasa dan pariwisata.

Erwin mengatakan agenda hilirisasi juga perlu diperluas dan tidak hanya bertumpu pada sektor mineral. Hilirisasi dapat dikembangkan ke sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan sektor lain yang memiliki basis produksi domestik.

Namun, agar sektor-sektor tersebut dapat berkembang, terdapat sejumlah faktor yang perlu dijaga. Pertama, daya beli masyarakat karena konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu mesin utama ekonomi Indonesia.

"Kedua, investasi. Indonesia harus semakin kompetitif dibanding negara ASEAN lainnya dalam biaya energi, logistik, pembiayaan, produktivitas tenaga kerja dan kemudahan berusaha," kata Erwin.

Baca Juga: PHE Garap Potensi Natural Hydrogen di Ampana, Bidik Peran Lead Operator

Ketiga adalah kepastian regulasi. Menurut Erwin, dunia usaha dapat menghadapi risiko, tetapi akan kesulitan mengambil keputusan investasi apabila aturan sering berubah. Sebab, investasi yang dibangun saat ini memiliki horizon hingga 10-20 tahun.

Keempat, penciptaan lapangan kerja. Kadin menilai perhatian perlu diberikan kepada manufaktur dan sektor padat karya agar pertumbuhan ekonomi dapat menyerap angkatan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

"Karena itu, KADIN melihat 2027 harus menjadi tahun konsolidasi sekaligus akselerasi sektor riil. Optimisme Presiden mengenai pertumbuhan perlu kita jaga, tetapi tahap berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut semakin banyak berasal dari investasi produktif, industrialisasi dan peningkatan produktivitas," ujarnya.

Erwin menegaskan, bagi dunia usaha, ukuran keberhasilan ekonomi tidak hanya dilihat dari pencapaian angka pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi juga perlu diikuti keberanian perusahaan melakukan investasi, ekspansi industri, peningkatan kapasitas UMKM, serta bertambahnya pekerjaan produktif bagi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag

Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×