kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.158   11,00   0,06%
  • IDX 5.356   -17,45   -0,32%
  • KOMPAS100 697   0,53   0,08%
  • LQ45 542   -0,28   -0,05%
  • ISSI 183   -0,63   -0,34%
  • IDX30 304   -0,46   -0,15%
  • IDXHIDIV20 403   1,39   0,35%
  • IDX80 80   0,09   0,11%
  • IDXV30 113   1,37   1,23%
  • IDXQ30 101   0,03   0,03%

Kadin Soroti Kontribusi Manufaktur Turun ke 19%, Industrialisasi Jadi Kunci


Selasa, 27 Oktober 2026 / 11:03 WIB
Kadin Soroti Kontribusi Manufaktur Turun ke 19%, Industrialisasi Jadi Kunci
ILUSTRASI. Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie (Dok/Kadin)


Reporter: Genta Disa | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai penguatan industri manufaktur dan peningkatan produktivitas menjadi kunci bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle-income trap.

Untuk mencapai target tersebut, sektor swasta dinilai perlu berperan lebih besar dalam mendorong investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, sektor swasta memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional. Pasalnya, sekitar 92% produk domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari luar belanja pemerintah, yakni investasi, ekspor, dan konsumsi domestik.

Baca Juga: TelkomGroup Luncurkan Pengembangan Sovereign Digital Technology di DTIIF 2026

“Kadin adalah suara independen dunia usaha yang dimandatkan melalui undang-undang, dan kami memahami dengan jelas bahwa 92% PDB kita berasal dari luar belanja pemerintah, yaitu investasi, ekspor, serta konsumsi domestik,” ujar Anindya dalam keterangan resmi, Senin (26/10/2026).

Anindya menyoroti tren penurunan kontribusi sektor manufaktur Indonesia, dari 32% pada 2002 menjadi sekitar 19% saat ini.

Menurutnya, penguatan industrialisasi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kesempatan kerja.

“Untuk tumbuh, kita perlu melakukan industrialisasi. Indeks manufaktur kita turun dari 32% pada 2002 menjadi sekitar 19% sekarang,” tuturnya.

Selain memperkuat industri, Anindya menilai pemanfaatan teknologi perlu ditingkatkan agar Indonesia mampu menciptakan pekerjaan dengan kualitas lebih baik.

Langkah tersebut juga penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata, berkelanjutan, dan inklusif.

Baca Juga: Pemerintah Pangkas Ekspor Gas 31 MMBTUD, PLN dan Industri Jadi Prioritas

Indonesia, lanjutnya, perlu memanfaatkan bonus demografi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengejar target pertumbuhan 8% yang dicanangkan Presiden.

Target tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, sebagaimana yang telah dicapai sejumlah negara lain.

“Presiden kita menargetkan pertumbuhan 8% dengan alasan yang jelas, yakni untuk berupaya keluar dari middle-income trap, seperti yang telah dilakukan negara-negara lain sebelumnya,” ungkap Anindya.

Sementara itu, Dean and CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro menekankan bahwa penguatan industri manufaktur harus diikuti dengan peningkatan penguasaan teknologi dan inovasi.

Menurutnya, aktivitas produksi dan ekspor saja tidak cukup untuk menjaga daya saing industri dalam jangka panjang.

Tanpa peningkatan kemampuan teknologi, industri manufaktur berisiko kehilangan daya saing seiring waktu. Bambang mengingatkan, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi negara-negara di Asia Tenggara yang telah mengembangkan basis industri dan ekspor, tetapi belum meningkatkan kapabilitas teknologinya.

Baca Juga: Kemenperin Bidik Utilisasi Industri 85%, Insentif Tambahan Disiapkan

“Ini yang berbahaya dan bisa terjadi di banyak negara Asia Tenggara. Mereka bergerak di bidang manufaktur, melakukan ekspor, tetapi tidak meningkatkan teknologi. Artinya, daya saing mereka seiring waktu akan menurun,” katanya.

Bambang mencontohkan perjalanan sejumlah perusahaan besar Korea Selatan yang berkembang dari bisnis awal ke sektor industri dengan teknologi lebih tinggi.

Samsung, misalnya, memulai bisnis dari perdagangan, sedangkan LG berawal dari bisnis kosmetik. Hyundai berkembang dari pekerjaan konstruksi, SK dari tekstil, dan Daewoo dari perdagangan.

Menurut Bambang, pengalaman perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan pentingnya mendorong sektor swasta untuk meningkatkan kapabilitas, mengembangkan inovasi, dan memperluas kegiatan usaha ke sektor bernilai tambah lebih tinggi.

“Pemerintah harus mendorong sektor swasta untuk bersama-sama membawa negara keluar dari middle-income trap,” ujarnya.

Dekan INSEAD Francisco Veloso turut menyoroti perubahan lanskap ekonomi global, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mengubah kebutuhan dunia kerja.

Karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri pada masa mendatang.

Baca Juga: Kemenhub Targetkan Harga Tiket Pesawat Turun 11%-13% saat Nataru 2026/2027

“Dunia sedang berada dalam masa transisi. Ada banyak tantangan, tetapi juga banyak peluang. Revolusi kecerdasan mengubah cara kita melangkah ke depan. Karena itu, mengembangkan keterampilan yang tepat untuk masa depan akan menjadi semakin penting,” kata Veloso.

Veloso juga menyoroti peran perusahaan keluarga dalam perekonomian Indonesia. Ia berharap kolaborasi dengan Kadin dapat mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Berbagai pandangan tersebut dibahas dalam Geoeconomics Policy Dialogue bertema Public-Private Partnerships in Escaping the Middle-Income Trap Amidst Geopolitical Shifts. Diskusi tersebut digelar menjelang Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×