Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melihat prospek sektor industri semakin positif hingga akhir 2026. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator yang menunjukkan aktivitas industri kembali memasuki fase ekspansi.
Kemenperin pun menargetkan utilisasi industri bisa mencapai 85% dari yang saat ini sekitar 70%.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada kuartal III-2026 mencapai 52,28, meningkat dibandingkan kuartal III-2025 sebesar 51,66 maupun kuartal II-2026 sebesar 51,43.
Baca Juga: Kemenhub Targetkan Harga Tiket Pesawat Turun 11%-13% saat Nataru 2026/2027
"Artinya kalau di atas 50 itu ekspansi. Itu artinya industri optimis bahwa keadaan akan membaik di masa-masa yang akan datang." ujar Sarmuji ditemui di Kantor Kemenperin, Senin malam (26/10/2026).
Sarmuji menjelaskan, indikator lain juga menunjukkan tren serupa. PMI yang dirilis S&P Global pada September 2026 berada di level 52,4, berbalik dari posisi Agustus 2026 yang sebesar 49,8 atau masih berada di zona kontraksi.
Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada September 2026 mencapai 51,93. Sarmuji menilai kenaikan tersebut menunjukkan pelaku industri semakin optimistis terhadap prospek usaha ke depan.
Baca Juga: Operator Transportasi Diminta Perketat Keselamatan di Tengah Karhutla
Sarmuji menyebut peningkatan aktivitas industri juga mulai diikuti kenaikan serapan tenaga kerja. Pemerintah pun akan mendorong peningkatan utilisasi kapasitas industri yang saat ini baru mendekati 70%.
"Kita utilisasi di sektor industri ini baru hampir 70% dan akan kita dorong mudah-mudahan ke depan bisa 80%, syukur-syukur bisa sampai 85%," ujarnya.
Menurut Sarmuji, peningkatan utilisasi hingga 80%-85% dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah juga membuka peluang pemberian insentif tambahan untuk mendorong ekspansi industri. Sarmuji mengatakan, pemerintah akan memetakan kebutuhan insentif bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Keuangan.
"Mumpung ada momentum kepercayaan industri lagi naik. Kalau bisa ada insentif tambahan agar sektor industri menjadi lebih bergairah lagi," kata Sarmuji.
Baca Juga: Perluas Pasar dan Daya Saing, UMKM Didorong Perkuat Pemasaran Digital
Selain insentif, Sarmuji berharap realokasi pasokan gas untuk industri melalui skema harga gas bumi tertentu (HGBT) dapat memperkuat ekspansi manufaktur hingga akhir tahun.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Wibowo menambahkan, pemerintah melihat sejumlah sumber pertumbuhan baru dari sektor industri. Di antaranya industri makanan dan minuman, agro, serta aktivitas industri di kawasan industri dan kawasan berikat.
"Kami melihat bahwa sektor industri maupun sektor-sektor pendukung industri yang diampu oleh Kementerian Perindustrian itu justru menunjukkan peningkatan, menunjukkan fase yang ekspansi," kata Drajad.
Drajad menambahkan, peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas industri.
Menurutnya, peningkatan utilisasi merupakan bentuk intensifikasi industri yang dapat memberikan tambahan pertumbuhan tanpa harus selalu mengandalkan investasi kapasitas baru.
Baca Juga: Kemenhub Tak Beri Pengecualian Truk Sumbu 3 Pengangkut AMDK Saat Nataru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














