Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baja nasional menghadapi paradoks di tengah prospek kebutuhan baja yang terus meningkat. Di satu sisi, Indonesia diproyeksikan membutuhkan hingga 100 juta ton baja pada 2045. Namun di sisi lain, utilisasi kapasitas produksi baja nasional saat ini masih berada di kisaran 55%.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan kebutuhan baja nasional berpotensi meningkat signifikan seiring pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.
"2045 dengan growth ekonomi yang didefinisikan, kita nanti akan butuh 100 juta ton steel base. Jadi promising buat para produsen besi baja," ujar Harry dalam diskusi Green Steel for Growth Convening 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Strategi Secure Parking Tingkatkan Kinerja di Tengah Ketatknya Persaingan Bisnis
Menurut dia, prospek permintaan tersebut menjadi peluang bagi industri baja nasional. Namun, peningkatan kapasitas produksi perlu mempertimbangkan kondisi industri saat ini yang masih menghadapi kelebihan kapasitas atau excess capacity.
Harry menyebut utilisasi industri baja nasional baru sekitar 55%. Kondisi tersebut menunjukkan kapasitas terpasang belum digunakan secara optimal.
Ketua Tim Kerja Sama Internasional dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian, Willy Fandri, juga mencatat utilisasi industri baja nasional berada di sekitar 52,7%. Selain rendahnya utilisasi, struktur industri masih menghadapi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Willy mencatat sekitar 56% bahan baku industri baja masih berasal dari impor. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika industri didorong meningkatkan kapasitas produksi sekaligus melakukan transformasi menuju teknologi yang lebih rendah emisi.
"Struktur teknologi itu beragam, jadi pukul rata kebijakan tidak bisa dilakukan," ujar Willy.
Menurut dia, industri baja nasional terdiri atas fasilitas dengan usia dan teknologi yang berbeda-beda. Karena itu, kebijakan peningkatan kapasitas maupun dekarbonisasi perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing fasilitas.
Di sisi lain, kebutuhan baja nasional yang mencapai 100 juta ton pada 2045 akan membutuhkan pengembangan kapasitas produksi secara bertahap. IISIA menilai peluang tersebut tetap terbuka karena baja menjadi bahan baku utama berbagai sektor, mulai dari konstruksi, infrastruktur hingga industri otomotif.
Harry mengatakan produksi crude steel Indonesia pada 2025 berada di kisaran 19 juta ton. Angka tersebut masih jauh di bawah negara produsen utama seperti China dan India.
Sebagai perbandingan, China memproduksi sekitar 1,3 miliar ton crude steel per tahun, sedangkan India berada di kisaran 140 juta ton. Bahkan, total produksi baja negara-negara ASEAN masih belum mencapai 100 juta ton.
Namun, peningkatan kapasitas tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fasilitas baru. Pemerintah dan industri juga perlu memastikan utilisasi fasilitas eksisting meningkat.
Persoalan bahan baku menjadi salah satu tantangan. Dalam proses produksi berbasis electric arc furnace (EAF), misalnya, industri membutuhkan scrap dalam jumlah besar. Harry mengatakan Indonesia masih mengimpor sekitar 2 juta ton scrap per tahun.
Masalah impor scrap sempat menjadi perhatian setelah ditemukannya material radioaktif dalam salah satu kasus impor. IISIA mendorong agar pemeriksaan material dilakukan di pelabuhan sehingga material yang tidak memenuhi ketentuan dapat langsung dire-ekspor sebelum masuk ke fasilitas produksi.
Selain itu, biaya energi dan logistik juga masih menjadi persoalan daya saing industri baja. Willy menyebut biaya energi dan logistik nasional belum cukup kompetitif dibandingkan sejumlah negara produsen baja lainnya.
Baca Juga: GMF Perluas Bisnis MRO Pertahanan, Bidik Peluang Jadi Hercules Service Center
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














