Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 berada di level 54,02. Nilai IKI bulan ini melambat 0,10 poin setelah pada Januari lalu mencetak rekor tertinggi di level 54,12.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan bahwa meski turun secara bulanan, tapi posisi IKI masih kuat berada di atas zona ekspansi. Jika dibandingkan secara tahunan, IKI bulan ini mengalami kenaikan 0,87 poin ketimbang nilai IKI Februari 2025 yang kala itu berada di posisi 53,15.
Febri membeberkan dari 23 sub sektor manufaktur yang dianalisis, sebanyak 19 sub sektor mengalami ekspansi. Dua sub sektor dengan nilai IKI tertinggi pada bulan Februari adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 18 dan Industri Alat Angkut Lainnya (KBLI 30).
Baca Juga: Menakar Harga Keekonomian Gas untuk Industri
Febri menyoroti ekspansi KBLI 18 dipengaruhi oleh peningkatan utilisasi produksi dan permintaan produk kemasan pada Ramadan - Idulfitri. Permintaan kemasan meningkat, terutama untuk memenuhi permintaan di industri makanan dan minuman (mamin) yang sudah memacu produksi sekitar dua bulan terakhir.
"Permintaan industri mamin melonjak menjelang hari besar keagamaan. Maka industri intermediate-nya ikut naik untuk memenuhi permintaan kemasan," kata Febri dalam konferensi pers IKI di Kantor Kemenperin, Kamis (26/2/2026).
Sementara itu, ada empat sub sektor mengalami kontraksi pada bulan Februari, yakni: Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) serta Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (KBLI 16), Industri Barang Galian Bukan Logam (KBLI 23), Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26), serta Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan (KBLI 33).
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kemenperin Sri Bimo Pratomo menyoroti kontraksi pada sub sektor industri Barang Galian Non-Logam (BGNL) dipengaruhi oleh permintaan domestik. Pelaksanaan proyek yang belum berjalan optimal pada awal tahun anggaran dan bulan Ramadan membuat permintaan terhadap produk industri BGNL, termasuk bahan bangunan mengalami pelemahan.
"Masuk awal anggaran dan bulan Ramadan banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan, sehingga permintaan bahan bangunan dan produk BGNL juga ikut turun. Kemudian, industri semen masih mengalami excess capacity," terang Bimo.
Sebagai informasi, IKI dibentuk oleh tiga variabel yang terdiri dari pesanan baru, persediaan produk dan produksi. Febri menjelaskan bahwa pada bulan Februari ini, variabel pesanan baru secara bulanan tumbuh tipis 0,07 poin menjadi 55,34.
Penyesuaian Produksi
Sementara itu, variabel persediaan produk turut mengalami kenaikan secara bulanan sebesar 0,11 poin menjadi 50,25. Berbeda arah dengan variabel produksi yang mengalami perlambatan sebesar 0,51 poin menjadi 54,35 pada Februari 2026.
Baca Juga: Mahindra dan Tata Siap Bangun Pabrik di RI, Target Mulai 2027–2029
Febri melihat pada bulan ini sudah ada indikasi penyesuaian produksi setelah mencapai masa puncak untuk persiapan menyambut bulan Ramadan. Febri mencontohkan industri mamin yang sudah memacu produksi sekitar dua bulan sebelum Ramadan, dan mencapai puncaknya sebulan sebelum Idulfitri.
"Sebagaimana industri mamin menghadapi demand musiman menjelang hari besar keagamaan. Produksinya sudah melampaui puncaknya, dan sekarang mulai menurunkan produksinya," ungkap Febri.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman sebelumnya menyampaikan bahwa para produsen mamin sudah bergerak mengamankan bahan baku dan mendongkrak utilisasi produksi sejak akhir tahun 2025.
Utilisasi industri mamin naik menjadi di atas 70% - 80%, dari rata-rata 60% - 70% pada hari biasa. "(Utilisasi) beberapa kategori bahkan sudah optimal, karena mengejar kebutuhan sesuai permintaan," kata Adhi kepada Kontan.co.id belum lama ini.
Setelah mengamankan bahan baku dan operasional produksi, fokus pelaku industri mamin adalah mengoptimalkan pemasaran dan distribusi produk. Adhi memberikan gambaran, permintaan produk industri mamin rata-rata mendaki 20% - 30% selama Ramadan - Idulfitri.
Tapi untuk beberapa kategori produk seperti sirup, nata de coco, kolang-kaling dan biskuit, pertumbuhan permintaan bisa melonjak hingga 100% dibandingkan hari biasa. Dengan musim puncak yang terjadi pada awal tahun, Adhi memprediksi semester pertama akan berkontribusi sekitar 60% terhadap total penjualan industri mamin pada tahun ini.
Secara industri, kinerja sub sektor mamin diperkirakan bisa tumbuh sekitar 6%. "Lebih bagus dibandingkan awal tahun lalu yang sekitar 5%. Tahun ini kami lebih optimistis juga karena insentif yang diberikan pemerintah ke masyarakat. Kami berharap bisa memberikan dampak terhadap penjualan," ujar Adhi.
Selanjutnya: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 27 Februari 2026, Bangun Reputasi
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 27 Februari 2026, Bangun Reputasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)