Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur pada semester II-2026.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kebijakan pemerintah dalam mendukung sektor industri mampu menjaga ketahanan manufaktur di tengah tingginya tantangan ekonomi global.
"BPS merilis bahwa pertumbuhan industri manufaktur kembali berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya, kebijakan pemerintah untuk membantu dan mendukung industri nasional agar lebih resilien di tengah tantangan yang luar biasa besar terbukti bekerja dengan baik," ujar Agus di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: APTIKNAS Dorong Percepatan RUU Keamanan Siber untuk Perkuat Ekosistem Digital
Meski demikian, pemerintah menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat agar laju pertumbuhan industri manufaktur dapat meningkat pada paruh kedua tahun ini.
"Kami sudah mengidentifikasi kebijakan-kebijakan apa saja yang perlu menjadi perhatian pemerintah agar pertumbuhan sektor manufaktur yang sudah baik ini bisa kita tingkatkan kembali," katanya.
Menurut Agus, arah kebijakan pemerintah tetap difokuskan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi sekaligus pasar utama bagi industri nasional.
"Intinya adalah menjadikan Indonesia sebagai pasar atau tuan rumah bagi industrinya sendiri," ujarnya.
Sejumlah pelaku industri juga memandang prospek manufaktur pada semester II-2026 masih positif, seiring dukungan berbagai kebijakan pemerintah.
Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan, perluasan alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi 62,5% dari sebelumnya 27,5% akan meningkatkan daya saing industri kaca. Selain itu, penurunan harga gas hasil regasifikasi LNG di Jawa Bagian Barat menjadi US$ 13 per MMBTU juga diharapkan mampu menekan biaya produksi.
Menurut Yustinus, membaiknya daya saing akan mendorong pemulihan permintaan, terutama dari sektor properti dan otomotif yang menjadi pengguna utama produk kaca.
Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara memperkirakan industri baja masih akan tumbuh pada semester II-2026, meski dengan laju yang lebih moderat.
Menurut Harry, permintaan domestik dan peluang ekspor masih menjadi penopang kinerja industri. Namun, pelaku usaha tetap menghadapi tantangan berupa tingginya biaya logistik dan energi, pelemahan nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik, serta tekanan akibat kelebihan kapasitas produksi baja global.
Karena itu, IISIA berharap pemerintah terus menjaga kepastian implementasi kebijakan HGBT, kemudahan berusaha, serta ketersediaan energi dan bahan baku yang kompetitif guna memperkuat daya saing industri nasional.
Baca Juga: Menperin Ungkap Pemicu PHK Terhadap Ratusan Buruh Garmen di Cimahi, Jabar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
