kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Kementerian ESDM Lirik Peluang Optimalisasi PLTA dengan Norwegia


Jumat, 02 Oktober 2026 / 15:54 WIB
Kementerian ESDM Lirik Peluang Optimalisasi PLTA dengan Norwegia
ILUSTRASI. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung (KONTAN/Arif Ferdianto)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melirik potensi kerja sama dengan negara-negara anggota G20, salah satunya Norwegia di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, dalam rangkaian pertemuan G20 turut dibahas upaya memperkuat ketahanan energi global melalui kerja sama antarnegara. Menurutnya, sejumlah negara memiliki kemajuan teknologi energi terbarukan, sementara Indonesia memiliki potensi sumber daya yang besar.

Salah satu negara yang dilirik adalah Norwegia yang dinilai memiliki pengalaman lebih matang dalam pengembangan PLTA. Yuliot menyebutkan sekitar 90% pasokan listrik Norwegia berasal dari PLTA.

Baca Juga: Daftar HMA Periode Pertama Oktober 2026, Nikel Tembus US$ 16.322,67

"Seperti Norwegia, mereka ini ketersediaan listriknya 90% itu berasal dari PLTA. Ya, sementara kan kita memiliki cukup banyak juga potensi sungai-sungai besar, tapi belum bisa kita memanfaatkan secara maksimal," ungkap Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, pengalaman Norwegia dalam mengembangkan PLTA dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi sungai dan sumber daya air yang tersedia.

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki. Namun, juga memperoleh asistensi serta transfer pengetahuan terkait pengembangan PLTA.

"Jadi dengan teknologi Norwegia, ini kita harapkan asistensi dari mereka juga, apa yang kita miliki, dan juga apa pengalaman mereka mengembangkan PLTA di wilayah mereka, itu justru bisa kita adopsi," jelas Yuliot.

Ia menambahkan bahwa kerja sama teknologi di sektor EBT juga telah dibicarakan dengan sejumlah negara lain, seperti pengembangan hidrogen dengan Amerika Serikat (AS).

"Ini kita kan memiliki indikasinya, cadangan hidrogen yang bisa ditambahkan kan cukup besar, tapi ini kita belum usahakan. Jadi ini kita akan kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari Amerika," imbuh Yuliot.

Baca Juga: Daftar HBA Periode Pertama Oktober 2026, Kalori Tinggi Tembus US$ 122,52

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×