kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.345.000 -0,88%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kereta Cepat Whoosh Masih Kesulitan Capat Target Penumpang, Apa Masalahnya?


Senin, 05 Februari 2024 / 04:53 WIB
Kereta Cepat Whoosh Masih Kesulitan Capat Target Penumpang, Apa Masalahnya?
ILUSTRASI. KCIC mengklaim tingkat okupansi Whoosh masih di atas 50 persen yaitu sekitar 60-70 persen di hari kerja.


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Untuk diketahui saja, KCIC sebagai operator Kereta Cepat Whoosh masih menerapkan tarif diskon. Pada awalnya sesuai keekonomian dan pengembalian investasi, tarif termurah ditetapkan sebesar Rp 300.000, namun guna menarik antusias masyarakat, diberlakukan tarif promo diskon 50 persen sebesar Rp 150.000 hingga akhir November 2023. 

Per Desember 2023, tarif promo mengalami mengalami penyesuaian menjadi Rp 200.000 untuk tarif termurahnya. 

Belakangan, KCIC kini mulai menerapkan skema tarif dinamis (dynamic pricing) alias harga tiket bisa naik turun menyesuaikan dengan kondisi.

Sebagai gambaran saja, saat musim liburan Natal dan Tahun Baru 2024 (Nataru), KCIC merilis jumlah penumpang tertinggi Whoosh terjadi pada 26 Desember 2023 dengan jumlah sebanyak 21.188 penumpang. 

Rekor okupansi tertinggi ini masih jauh di bawah target 30.000 penumpang per hari.

Baca Juga: Jadwal Kereta Panoramic pada Februari 2024, Tiket Bisa Dibeli Lewat Aplikasi

Penjelasan KCIC 

Sementara itu General Manager Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Eva Chairunisa, menjelaskan tidak ada kaitan antara pengurangan frekuensi Argo Parahyangan dengan upaya mendongkrak jumlah penumpang Whoosh. 

Eva bilang, banyak penumpang Kereta Cepat Whoosh berasal dari masyarakat yang selama ini adalah pengguna kendaraan pribadi dalam melakukan perjalanan dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya. 

"Melalui survei random penumpang Whoosh di Stasiun Halim 48 persen itu merupakan penumpang yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi," ujar Eva. 

Mengenai jumlah penumpang Kereta Cepat Whoosh yang disebut berkurang, Eva menjelaskan, tingkat keterisian tempat duduk atau okupansi Whoosh memang tidak selalu di angka 100 persen. 

Adapun saat ini, dia mengklaim tingkat okupansi Whoosh masih di atas 50 persen yaitu sekitar 60-70 persen di hari kerja. 

"Saat ini okupansi Whoosh memang tidak selalu di angka 100 persen karena yang namanya transportasi pasti ada jam sibuk dan non-sibuknya," ucapnya. 

Penjelasan Kementerian BUMN 

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengatakan, naik-turun jumlah penumpang adalah hal yang umum pada transportasi massal, tak terkecuali Whoosh. 

Ia menuturkan, jumlah penumpang sangat dipengaruhi oleh waktu keberangkatan di periode sibuk atau tidak. Sehingga terkadang mengalami peningkatan atau penurunan pada waktu-waktu tertentu. 

"Kita tunggu saja, mungkin kan sekarang lagi turun. Jangan cuma berapa hari langsung kita satu ini dibilang sepi," ujarnya saat ditemui di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. 

Menurutnya, untuk melihat kepastian sepi atau tidaknya peminat Kereta Cepat Whoosh adalah berdasarkan data per bulannya. 

"Karena kan bisa saja jamnya lagi enggak (sibuk), dan berapa banyak penumpang sebulannya, itu kan ada laporan dari KCIC nanti," kata Arya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penumpang Kereta Cepat Whoosh Masih di Bawah Target, Apa Masalahnya?"

Selanjutnya: Perpanjang SIM Cepat Jadi, Datangi Jadwal SIM Keliling Jakarta Hari Ini 5/2/2024

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×