CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Keterbatasan Pasokan Alat Berat Hambat Industri Pertambangan Tingkatkan Produksi


Minggu, 29 Mei 2022 / 15:00 WIB
Keterbatasan Pasokan Alat Berat Hambat Industri Pertambangan Tingkatkan Produksi
ILUSTRASI. Alat berat beroperasi pada sebuah proyek pembangunan jalan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/2/2022). Keterbatasan Pasokan Alat Berat Hambat Industri Pertambangan Tingkatkan Produksi.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Terbatasnya pasokan alat berat menjadi tantangan bagi pelaku usaha pertambangan.  Beberapa perusahaan ada yang mengalami kesulitan menggenjot produksi karena keterbatasan alat berat. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia menjelaskan lonjakan harga batubara di tahun ini terjadi akibat permintaan menguat, sementara pasokan masih terkendala baik oleh faktor cuaca dan juga faktor ketersediaan alat berat. 

Secara umum, Hendra mengungkapkan ketersediaan alat berat di tahun ini, sepanjang pengamatan APBI hingga Mei 2022, relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. 

“Meski pasokan alat berat dari pihak kontraktor lebih baik dari tahun lalu, dengan adanya permintaan yang tinggi dari hampir seluruh komoditas tambang seperti nikel, bauksit, tembaga, timah selain batubara tentu berpengaruh terhadap kapasitas alat-alat berat,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Minggu (29/5).

Baca Juga: Ini Cucu Usaha Hutama Karya yang Berencana IPO Tahun Depan

Di sisi lain, Hendra tidak menampik bahwa pihak penyedia alat berat juga yang mengalami dampak negatif di saat harga komoditas rendah di 2020 tentu masih berhati-hati dengan fluktuasi harga.

Hendra melihat bahwa sejauh ini dampak dari keterbatasan alat berat tidak seperti di tahun 2021. Saat ini aktivitas masih berjalan lancar meski beberapa perusahaan menemui kesulitan dalam menggenjot produksi akibat keterbatasan alat-alat berat. 

Larangan ekspor pada Januari alu juga masih berpengaruh terhadap pencapaian realisasi produksi perusahaan tambang batubara hingga saat ini.

Lantas untuk menjaga agar kegiatan operasional produksi dapat tetap berjalan Hendra menegaskan di tengah peningkatan demand sementara ketersediaan alat berat belum bisa sepenuhnya mengejar permintaan, perusahaan tetap fokus dalam menerapkan aspek K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). 

Saat ini PT Indika Energy Tbk (INDY) meninjau revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) untuk menaikkan volume produksi di tahun ini. Manajemen Indika mengakui saat ini pihaknya masih dalam proses diskusi internal. 

Baca Juga: APBI Optimistis Tren Harga Batubara Terjaga

Vice President Director & Group CEO of PT Indika Energy, Azis Armand mengatakan, pihaknya sedang meninjau secara internal perihal revisi RKAB. Saat ini Indika sedang berdiskusi dengan para kontraktor dan penyedia alat-alatnya perihal ketersediaannya. 

“Kalau pun ada peningkatan (produksi) tidak akan signifikan, tidak sampai 20%,” jelasnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (20/5). 

Adapun produsen alat berat mengatakan bahwa saat ini industrinya masih mengalami tantangan berupa belum lancarnya pasokan bahan baku. 

Saat dihubungi terpisah oleh Kontan.co.id, Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi), Jamalludin mengungkapkan permintaan alat berat secara nasional di Indonesia sekitar 17.000 unit per-tahun. Adapun produksi dalam negeri di level 10.000 unit per tahun. 

“Sementara, saat ini belum ada penambahan kapasitas produksi mengingat fluktuasi (permintaan) alat berat yang signifikan,” jelasnya. 

Perihal terbatasnya pasokan alat berat saat ini di tengah permintaannya yang melonjak, Jamalludin bilang, saat ini pasokan bahan baku masih belum lancar. Penyebabnya, semua industri saat ini sedang tumbuh sedangkan supply masih belum lancar. 

Sejalan dengan permintaannya saat ini, Hinabi memasang posisi kapasitas produksi di full capacity. Maka itu, pihaknya memproyeksikan target produksi alat berat di 2022 mencapai 9.000 unit hingga 10.000 unit. 

Baca Juga: Penjualan Alat Berat Naik, Simak Rekomendasi Saham UNTR dari Analis

Sampai dengan Maret 2021, Hinabi mencatat, realisasi produksi alat berat mencapai 2.113 unit, naik 49,11% dibanding realisasi produksi alat berat pada Januari-Maret 2021 yang berjumlah 1.417 unit.

Dari segi komposisi, alat berat jenis hydraulic excavator masih mendominasi angka produksi alat berat dengan jumlah 1.814 unit atau setara 85,84% dari total produksi Januari-Maret 2022. Sekitar 14% sisanya terdiri atas produksi bulldozer sebanyak 205 unit, dump truck 65 unit, dan motor grader 29 unit.

Di awal tahun ini, permintaan alat berat dari sektor pertambangan meningkat karena tren harga komoditas yang sedang tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×