Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek sektor manufaktur pada semester II-2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan, meski peluang pemulihan mulai terbuka seiring penguatan konsumsi domestik, belanja pemerintah, dan investasi.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurrahman menilai, pemulihan industri belum berlangsung merata. Hal itu tercermin dari aktivitas manufaktur yang kembali terkontraksi pada Juni 2026.
"PMI manufaktur turun tajam dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni 2026. Ini menunjukkan kontraksi produksi dan permintaan baru. Artinya, pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai sekitar 5,6% belum sepenuhnya tertransmisikan menjadi peningkatan aktivitas industri," ujar Rizal kepada Kontan, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: TransNusa Rilis Rute Baru Bali-Phuket, Ini Tanggal Penerbangan Perdananya
Menurut dia, kinerja manufaktur hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari daya beli masyarakat, stabilitas nilai tukar rupiah, harga energi, biaya logistik, hingga kelancaran pasokan bahan baku.
Rizal menjelaskan, pelemahan rupiah dan meningkatnya tensi geopolitik global berpotensi mengerek biaya impor bahan baku. Di sisi lain, produsen tidak leluasa meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen karena permintaan domestik masih terbatas.
"Tanpa perbaikan permintaan dan kepastian kebijakan, pelaku industri cenderung menahan ekspansi, investasi, maupun penambahan tenaga kerja," katanya.
Di sisi eksternal, prospek ekspor manufaktur juga dinilai belum cukup kuat. Meski nilai ekspor Indonesia pada Januari–Mei 2026 masih tumbuh 3,02% secara tahunan menjadi US$ 115,36 miliar, laju pertumbuhan tersebut relatif terbatas di tengah risiko perlambatan ekonomi global.
Rizal mengingatkan, proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat dari 2,9% pada 2025 menjadi 2,5% pada 2026 dapat membatasi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu mempercepat diversifikasi pasar ekspor sekaligus memperkuat industri manufaktur bernilai tambah agar tidak bergantung pada pasar maupun komoditas tertentu. Dengan langkah tersebut, daya tahan sektor manufaktur diharapkan lebih kuat menghadapi perlambatan ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














