kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.121   34,00   0,19%
  • IDX 6.019   95,03   1,60%
  • KOMPAS100 785   14,48   1,88%
  • LQ45 600   11,00   1,87%
  • ISSI 207   2,89   1,42%
  • IDX30 340   6,09   1,83%
  • IDXHIDIV20 421   8,11   1,96%
  • IDX80 90   1,70   1,93%
  • IDXV30 114   1,62   1,45%
  • IDXQ30 109   1,64   1,52%

PMI Manufaktur Terkontraksi, Indef Proyeksi Prospek Semester II-2026 Masih Rapuh


Senin, 13 Juli 2026 / 13:44 WIB
PMI Manufaktur Terkontraksi, Indef Proyeksi Prospek Semester II-2026 Masih Rapuh
ILUSTRASI. CHINA-ECONOMY (AFP/CN-STR)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek sektor manufaktur pada semester II-2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan, meski peluang pemulihan mulai terbuka seiring penguatan konsumsi domestik, belanja pemerintah, dan investasi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurrahman menilai, pemulihan industri belum berlangsung merata. Hal itu tercermin dari aktivitas manufaktur yang kembali terkontraksi pada Juni 2026.

"PMI manufaktur turun tajam dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni 2026. Ini menunjukkan kontraksi produksi dan permintaan baru. Artinya, pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai sekitar 5,6% belum sepenuhnya tertransmisikan menjadi peningkatan aktivitas industri," ujar Rizal kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Baca Juga: TransNusa Rilis Rute Baru Bali-Phuket, Ini Tanggal Penerbangan Perdananya

Menurut dia, kinerja manufaktur hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari daya beli masyarakat, stabilitas nilai tukar rupiah, harga energi, biaya logistik, hingga kelancaran pasokan bahan baku.

Rizal menjelaskan, pelemahan rupiah dan meningkatnya tensi geopolitik global berpotensi mengerek biaya impor bahan baku. Di sisi lain, produsen tidak leluasa meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen karena permintaan domestik masih terbatas.

"Tanpa perbaikan permintaan dan kepastian kebijakan, pelaku industri cenderung menahan ekspansi, investasi, maupun penambahan tenaga kerja," katanya.

Di sisi eksternal, prospek ekspor manufaktur juga dinilai belum cukup kuat. Meski nilai ekspor Indonesia pada Januari–Mei 2026 masih tumbuh 3,02% secara tahunan menjadi US$ 115,36 miliar, laju pertumbuhan tersebut relatif terbatas di tengah risiko perlambatan ekonomi global.

Rizal mengingatkan, proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat dari 2,9% pada 2025 menjadi 2,5% pada 2026 dapat membatasi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu mempercepat diversifikasi pasar ekspor sekaligus memperkuat industri manufaktur bernilai tambah agar tidak bergantung pada pasar maupun komoditas tertentu. Dengan langkah tersebut, daya tahan sektor manufaktur diharapkan lebih kuat menghadapi perlambatan ekonomi global. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×