kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

KNCI taat pada kesepakatan dengan Kominfo


Selasa, 15 Mei 2018 / 23:29 WIB

KNCI taat pada kesepakatan dengan Kominfo
ILUSTRASI. Penjualan Kartu Perdana Prabayar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) telah meminta agar operator seluler mau bermitra dengan outlet atau gerai seluler. Paling lambat kesepakatan itu sudah bisa dilaksanakan operator seluler pada tanggal 21 Mei 2018.

Kesatuan Niaga Cellular Indonesia (KNCI) yang membawahi outlet seluler di Indonesia akhirnya bersepakat dengan hal itu. Kendati demikian, kebijakan itu tetap memberikan potensi kerugian bagi pendapatan outlet seluler. “60% pendapatan hilang,” kata Qutni Tysari, Ketua Umum KNCI kepada Kontan.co.id pada Selasa (15/5).


Sebelumnya, registrasi nomor prabayar memang tidak dibatasi Kominfo. Namun “Fokusnya bukan masalah berapa di registrasi. Tapi apakah registrasi sesuai NIK yang bersangkutan,” jelas Qutni.

Kekhawatiran seperti penggunaan identitas tanpa hak untuk nomor prabayar memang masih bisa terjadi. Tetapi Qutni menegaskan, outlet pasti menjual nomor-nomor yang belum aktif.

Terlebih outlet telah mengalami penyaringan melalui pendaftaran resmi dengan operator seluler. “Sekarang outlet terdaftar terrecord di operator,” jelasnya.

Bagi pembeli yang ingin membeli nomor ke empat, pembeli diwajibkan membawa NIK dan syarat registrasi lainnya dan bisa melakukan registrasi di outlet. Untuk nomor pertama sampai ketiga, bisa dilakukan melalui layanan yang diberikan operator seluler baik via SMS maupun secara online.

Qutni menambahkan, regulasi ini membuat pendapatan dari outlet seluler menurun hingga 60%. Ia menyebut sebelum ada regulasi registrasi nomor prabayar, permintan nomor baru sangat tinggi dikarenakan paket data yang lebih murah.

Qutni berharap implementasi dari kesepakatan kemarin paling lambat bisa dilaksanakan pada 21 Juni 2018 nanti.

 


Reporter: Harry Muthahhari
Editor: Sofyan Hidayat

Video Pilihan


Close [X]
×