kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.710   -61,00   -0,34%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Kolaborasi Penanganan Kanker di Indonesia Perlu Diperkuat


Jumat, 28 Agustus 2026 / 13:36 WIB
Kolaborasi Penanganan Kanker di Indonesia Perlu Diperkuat
PERHOMPEDIN menggelar The Role of Internist in Cancer Management (ROICAM) ke -13 digelar pada 21-23 Agustus 2026


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan penanganan kanker di Indonesia masih besar, mulai rendahnya kesadaran pencegahan dan skrining, keterlambatan diagnosis, kesenjangan akses layanan, keterbatasan SDM, pembiayaan, serta ketidakmerataan diagnostik dan terapi. 

GLOBOCAN 2022 memperkirakan terdapat 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat kanker di Indonesia. Beban ini diperkirakan dapat meningkat sekitar 63% pada 2025–2040 jika tidak ada perubahan strategi yang signifikan, menurut Rencana Kanker Nasional 2024–2034.

Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) menilai berbagai hambatan harus diatasi secara bersama-sama. Pasalnya, dengan diagnosis dini dan tepat, terapi yang sesuai, serta pelayanan yang komprehensif, pasien kanker memiliki peluang lebih besar untuk hidup lebih lama.

Menurut asosiasi ini, penanganan kanker butuh kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan, pemerintah, akademisi, komunitas pasien, hingga masyarakat, dengan pasien sebagai pusat pelayanan.

Kanker tidak dapat dipandang hanya sebagai penyakit pada satu organ karena dampak kanker dan terapinya bersifat sistemik. Pasien dapat mengalami berbagai komplikasi serta memiliki penyakit penyerta yang memengaruhi pilihan dan keamanan pengobatan.

Baca Juga: Bayer Dorong Manufaktur Kesehatan Berkelanjutan

“Dalam hal ini, dokter spesialis penyakit dalam, khususnya konsultan hematologi-onkologi medik, memiliki peran strategis dalam melihat pasien secara menyeluruh,” kata 
Dr Eka Widya Khorinal,  Ketua Pelaksana ROICAM 13, dalam keterangannya dikutip Jumat (28/8/2026).

ROICAM 2026 merupakan acara pertemuan ilmiah dan simposium kedokteran tahunan yang berfokus pada peran dokter spesialis penyakit dalam menatalaksana penyakit kanker yang digelar PERHOMPEDIN. Ajang ini mengusung tema Strength in Diversity, Excellence in Care: Because Cancer Is Not the End of Everything.

Eka menambahkan, kanker adalah penyakit yang dapat berdampak sistemik pada seluruh tubuh, bukan hanya pada organ tempat tumor berasal. Pasien dapat mengalami berbagai komplikasi serta memiliki penyakit penyerta yang memengaruhi keamanan dan pilihan terapi.

Karena itu, kata dia, dokter spesialis penyakit dalam, khususnya konsultan hematologi-onkologi medik, berperan penting dalam melihat pasien secara menyeluruh. Selain memberikan terapi sistemik seperti kemoterapi, terapi target, imunoterapi, dan terapi presisi, pelayanan juga harus mencakup pengendalian komorbiditas, pemeliharaan fungsi organ, penanganan komplikasi, status nutrisi, serta kualitas hidup pasien.

Baca Juga: MRCCC Siloam Semanggi Tambah Empat Teknologi Berbasis AI untuk Penanganan Kanker

Menurut Eka, pelayanan kanker yang unggul bukan sekadar mengobati tumor, tetapi merawat manusia yang hidup dengan kanker. Hal ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin yang melibatkan berbagai dokter spesialis, perawat, farmasis, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikolog, dan tenaga paliatif.

Eka bilang, konsep “Strength in Diversity” menegaskan bahwa keberagaman kompetensi merupakan kekuatan apabila seluruh pihak bekerja secara terintegrasi dengan pasien sebagai pusat pelayanan.

"Prinsip ini juga perlu diterapkan secara nasional melalui sinergi pemerintah, organisasi profesi, rumah sakit, pelayanan primer, penelitian, pembiayaan berkelanjutan, dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat," ujarnya.

Diagnosis tepat

Eka melihat, keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan besar dalam pengendalian kanker di Indonesia. Lebih dari 80% pasien terdiagnosis pada stadium III atau IV, sehingga pilihan terapi semakin terbatas. Sehingga,  pencegahan, skrining, pengenalan gejala, diagnosis cepat dan akurat, serta rujukan efektif harus diperkuat. Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang kesembuhan.

Melalui Rencana Kanker Nasional 2024–2034, lanjutnya,  Indonesia telah memiliki arah strategis yang mencakup pencegahan, deteksi dini, diagnosis, pengobatan, penguatan layanan, dan pengelolaan kanker. Tantangannya adalah memastikan strategi tersebut benar-benar diterapkan dan dirasakan masyarakat dari tingkat pusat hingga daerah.

Di era kedokteran presisi, pemeriksaan patologi, biomarker, dan molekuler membantu menentukan terapi yang tepat. Perkembangan terapi target, imunoterapi, radioterapi, pembedahan, dan kedokteran nuklir perlu diiringi pemerataan fasilitas, tenaga terlatih, obat, sistem rujukan, dan pembiayaan.

Baca Juga: Perkembangan Terapi Kanker Modern Pesat, Kebutuhan Apoteker Onkologi Meningkat

Indonesia perlu memanfaatkan populasi yang besar untuk memperkuat registri kanker, penelitian klinis, dan real-world evidence agar menghasilkan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi digital dan kecerdasan buatan dapat mendukung deteksi, diagnosis, dan keputusan klinis tanpa menghilangkan sisi manusiawi pelayanan.

Keberhasilan pengobatan bukan hanya mengecilkan tumor, tetapi memperpanjang hidup dan mempertahankan kualitas hidup pasien. Survivorship, pengelolaan kanker kronik, terapi suportif, pengendalian gejala, dan paliatif tetap penting ketika kesembuhan tidak lagi menjadi tujuan.

Karena itu, kanker bukan akhir dari segalanya. “Kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, rumah sakit, industri, komunitas pasien, media, dan masyarakat diperlukan untuk mempercepat diagnosis, memastikan terapi tepat, memperluas akses, dan meningkatkan hasil pengobatan kanker di Indonesia.” pungkas Eka. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×