Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah segera memperkuat arah pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memastikan dua dokumen utama terkait AI akan ditetapkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) dalam waktu dekat.
Dua dokumen tersebut adalah Strategi Nasional AI 2020–2045 dan kerangka etika AI. Keduanya saat ini masih dalam proses finalisasi di Sekretariat Negara.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan, penetapan kedua dokumen ini akan menjadi fondasi penting dalam tata kelola AI nasional. “Keduanya akan menjadi Perpres dalam waktu dekat,” ujarnya menjawab Kontan dalam konferensi pers AI Pre-Summit di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Dengan ditetapkannya dua regulasi ini, pemerintah ingin memastikan pengembangan dan pemanfaatan AI berjalan terarah, aman, dan bertanggung jawab di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, dunia usaha, akademisi, hingga industri.
Baca Juga: Komdigi Imbau, Anak-Anak Tak Cuma Fokus di Gawai, Juga Harus Aktif di Dunia Nyata
Nezar menjelaskan, keberadaan Perpres AI menjadi semakin krusial seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 230 miliar pada 2030, sehingga dibutuhkan kebijakan yang mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi secara optimal dan berkelanjutan.
Strategi Nasional AI dan kerangka etika AI tersebut akan menitikberatkan pada prinsip kepercayaan, transparansi, pengembangan talenta digital, serta akuntabilitas dalam penerapan teknologi AI.
Fokus penerapan AI diarahkan ke sektor-sektor prioritas nasional, seperti kesehatan, tata kelola pemerintahan, pendidikan, ketahanan pangan, dan mobilitas.
“Ini akan menjadi panduan nasional dalam mengembangkan dan memanfaatkan AI,” kata Nezar.
Perkuat Kolaborasi AI dengan India
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong kerja sama internasional untuk mempercepat pengembangan AI, salah satunya melalui kolaborasi dengan India. Kerja sama ini menekankan pengembangan AI yang inklusif, berorientasi pada manusia, serta berbasis tata kelola yang etis dan berkelanjutan.
Baca Juga: AI Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi 8%, Komdigi Soroti Tata Kelola Digital Nasional
Kolaborasi Indonesia–India menjadi salah satu topik utama dalam AI Pre-Summit di Jakarta, menjelang AI Impact Summit 2026 yang akan digelar di New Delhi pada Februari 2026.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menilai AI memiliki peran strategis dalam mendorong kemaslahatan sosial. Pemanfaatan AI dinilai dapat meningkatkan kualitas layanan publik, memperluas inklusi keuangan, serta memperkuat sistem perlindungan sosial berbasis kebutuhan masyarakat.
“AI tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok tertentu,” tegas Sandeep.
Menurutnya, India dan Indonesia menghadapi tantangan yang serupa dalam pengembangan AI, terutama dalam memastikan teknologi ini bersifat inklusif. Karena itu, kolaborasi kedua negara diarahkan untuk memanfaatkan keunggulan masing-masing, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, teknologi digital, hingga penguatan ekosistem.
Baca Juga: Kementerian Komdigi Cabut Pembekuan Izin TikTok di Indonesia
Sandeep menekankan, pemanfaatan AI seharusnya difokuskan pada agenda pembangunan nasional yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Sektor kesehatan, pendidikan, perlindungan lingkungan, serta perluasan akses layanan publik bagi masyarakat miskin dan wilayah terpencil menjadi prioritas utama.
“Tujuannya agar AI benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Selanjutnya: BI Tahan Suku Bunga BI Rate 4,75%, Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
Menarik Dibaca: Promo Indomaret Harga Spesial 21-26 Januari 2026, Snack-Body Care Diskon hingga 40%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













