kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.916   25,00   0,15%
  • IDX 7.362   -27,28   -0,37%
  • KOMPAS100 1.021   -6,48   -0,63%
  • LQ45 751   -1,06   -0,14%
  • ISSI 259   -0,96   -0,37%
  • IDX30 401   1,72   0,43%
  • IDXHIDIV20 497   5,73   1,17%
  • IDX80 115   -0,59   -0,51%
  • IDXV30 134   1,20   0,90%
  • IDXQ30 129   0,61   0,48%

Kompor Listrik dan EV Jadi Strategi Perkuat Ketahanan Energi Nasional


Kamis, 12 Maret 2026 / 17:38 WIB
Kompor Listrik dan EV Jadi Strategi Perkuat Ketahanan Energi Nasional
ILUSTRASI. Kompor listrik (Pexels/Ela Haney). Gejolak geopolitik global picu risiko energi. DEN menegaskan kompor dan kendaraan listrik jadi kunci memperkuat ketahanan energi nasional.


Reporter: kompas.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Percepatan penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. 

Upaya ini dipandang semakin mendesak di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan energi dan memicu lonjakan harga.

Anggota Dewan Energi Nasional, Kholid Syeirazi, menilai struktur energi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Ketergantungan tersebut membuat sistem energi nasional rentan ketika terjadi gejolak di pasar global.

“Karena itu kita perlu memperkuat alternatif energi yang bersumber dari dalam negeri, salah satunya kompor listrik dan kendaraan listrik,” ujar Kholid, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga: DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat

Menurut dia, selama kondisi pasar stabil, ketergantungan pada energi impor memang belum terasa dampaknya. Namun risiko akan meningkat ketika konflik geopolitik mengganggu pasokan energi dunia dan mendorong kenaikan harga.

Karena itu, arah kebijakan energi nasional ke depan diarahkan pada elektrifikasi di berbagai sektor. Perubahan tersebut mencakup rumah tangga hingga transportasi.

Dalam sektor transportasi, kendaraan bermotor secara bertahap akan beralih dari BBM ke listrik. Sementara di rumah tangga, penggunaan energi untuk memasak juga didorong beralih dari LPG ke kompor listrik.

Langkah elektrifikasi ini dinilai dapat menekan ketergantungan terhadap impor energi sekaligus memperluas pemanfaatan sumber energi domestik. Selain itu, kebijakan tersebut sejalan dengan upaya diversifikasi energi dan pengembangan energi terbarukan.

Indonesia sendiri memiliki potensi energi terbarukan yang besar, mulai dari tenaga surya, angin, hingga biofuel dan berbagai sumber energi nabati lainnya. Pemanfaatan potensi tersebut diharapkan dapat memperkuat bauran energi nasional sekaligus mendukung target penurunan emisi.

Baca Juga: HKI Harap DEN Bisa Perkuat Arah Transisi Energi Hijau untuk Kawasan Industri

Kholid juga menilai sistem kelistrikan nasional masih memiliki kapasitas yang cukup untuk menopang peningkatan kebutuhan listrik dari proses elektrifikasi tersebut.

Saat ini konsumsi listrik Indonesia masih relatif rendah, yakni sekitar 1.400 kilowatt hour (kWh) per kapita per tahun. Angka tersebut jauh di bawah konsumsi listrik negara maju yang bisa melampaui 10.000 kWh per kapita per tahun.

Dengan peningkatan penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik, konsumsi listrik nasional diperkirakan akan meningkat. Namun dari sisi sistem kelistrikan, kondisi tersebut dinilai masih dapat ditopang sehingga tidak mengganggu ketahanan energi.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/03/12/145510526/gejolak-geopolitik-picu-risiko-energi-den-dorong-percepatan-elektrifikasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×