kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45906,00   16,21   1.82%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Konflik di Laut Merah Membuat Tarif Logistik Pengiriman Meningkat


Sabtu, 27 Januari 2024 / 07:00 WIB
Konflik di Laut Merah Membuat Tarif Logistik Pengiriman Meningkat
ILUSTRASI. Konflik yang terjadi Laut Merah kini membuat tarif logistik pengiriman kapal meningkat. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nym.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik yang terjadi Laut Merah kini membuat tarif logistik pengiriman kapal meningkat. Hal ini berimbas pada kinerja ekspor dan impor yang dilakukan sejumlah industri di Indonesia. 

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Mahendra Rianto menyatakan, dampak dari konflik Laut Merah membuat sejumlah shipping line atau perusahaan pelayaran mengubah rutenya menjadi lebih jauh demi menghindari serangan di daerah konflik. 

Perubahan rute ini yang menyebabkan ongkos kirim logistik atau freight cost naik 40%-50%, baik untuk barang ekspor maupun impor.

Baca Juga: Konflik di Laut Merah, GPEI: Biaya Logistik Ekspor Naik 10%

"Bahkan kalau dalam keadaan sibuk, ongkos kirimnya bisa naik hingga 100%," kata Mahendra kepada Kontan, Jumat (26/1).

Menurutnya, beberapa perusahaan pelayaran kini melewati Afrika Selatan. Nah, rute ini akan menambah jarak tempuh, sehingga biaya transportasi jadi naik.

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto melihat konflik laut merah ini semakin meningkatkan ketidakpastian di tahun 2024. 

Pasalnya, dampak dari konflik laut merah sangat signifikan terhadap pelayaran dunia, mulai dari tertundanya waktu pengiriman barang Asia ke Eropa, naiknya biaya operasional seperti bunker karena kapal menghindari laut merah dan meningkatkan konsumsi bahan bakar yang  lebih banyak. 

Ditambah lagi potensi naiknya asuransi kapal karena kondisi pelayaran yang tidak aman.

"Ongkos kirim kapal global dari Asia ke Eropa ikut terdorong naik sekitar 53% sampai 63%," kata Carmelita kepada Kontan, Jumat (26/1).

Dampak Tarif Logistik Mahal ke Pelaku Industri

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menjelaskan, harga jual ke konsumen tentunya akan meningkat seiring dengan adanya kenaikan biaya angkut logistik. Kendati demikian, kenaikan harga jual ini tergantung kesepakatan antara pembeli dan penjual.

"Pasti ada kenaikan harga jual karena ada biaya angkut yang bertambah. Tapi ini tergantung hubungan produsen dengan pembeli," ucap Benny kepada Kontan, Jumat (26/1).

Benny menjelaskan, perubahan rute kapal untuk menghindari konflik akan memakan waktu minimal 10 hari lebih lama, sehingga ada tambahan ongkos kirim sekitar 15%. 

"Kalau (biaya pengiriman) dengan ukuran kontainer 20 feet biasanya US$ 3,250 sekarang bisa US$ 4,000," terangnya.

Baca Juga: Kemendag: Krisis Laut Merah Mengganggu Impor Kedelai

Ketua Umum, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, dampak dari konflik Laut Merah bakal menambah tantangan ekspor di  industri manufaktur dan industri tekstil produk tekstil (TPT), setelah sebelumnya konsumsi TPT untuk pasar Eropa turun.

"Sebetulnya meski ekspornya sedang mengalami tekanan, untuk produk tertentu yang khusus, kita masih bisa ekspor. Hanya dengan kenaikan ongkos kirim ini menambah tekanan dan ini kan harga internasional," jelasnya.

Redma menjelaskan, adanya konflik tersebut tentunya membuat daya saing produk ekspor akan berkurang. Pasalnya, posisi geografis Indonesia paling jauh dari dataran Eropa dibandingkan negara-negara pesaing.

"Jadi otomatis tambahan freight cost nya paling tinggi," tuturnya.

Sementara itu, Redma mengatakan untuk harga jual produk tidak mengalami kenaikan yang terlalu tinggi. 

"Kalau ke harga jual produk sepertinya tidak signifikan. Kenaikan harga produk hulu justru karena peraturan kita sendiri," tegasnya.

Disisi lain, Redma menambahkan, per hari ini Jumat (26/1) biaya ongkos pengiriman di industri TPT sudah naik lebih dari 200%, di mana untuk ukuran kontainer 40 feet ke Eropa saat ini di kisaran US$ 6,000 dari semula US$ 2,000.

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur menerangkan, konsekuensi yang timbul karena perubahan rute pelayaran bisa memaksa buyers di kawasan mediterania dan Eropa mengubah asal impornya ke negara yang lebih dekat dan aman. 

Tentunya, ini akan berdampak pada kinerja ekspor di industri mebel dan kerajinan di Tanah Air. 

"Pada prinsipnya buyers itu akan mencari yang efisien dan efektif. Jadi mereka akan pindah atau mencari (produsen) yang terdekat," jelasnya.

Baca Juga: Ketegangan Geopolitik Diramal Beri Dampak ke Perdagangan RI hingga Dua Bulan ke Depan

Untuk harga jual ke konsumen, Abdul memprediksi saat ini tidak akan terjadi kenaikan harga jual mengingat kondisi ekonomi saat ini yang sedang sulit.

“Sepertinya tidak mungkin dengan kondisi ekonomi yang sulit saat ini, persaingan justru dalam harga yang harus kompetitif,” tuturnya.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) atau Asosiasi Industri dan Baja Indonesia Purwono Widodo mengatakan, dalam jangka pendek konflik laut merah akan mengakibatkan ketidakpastian pasokan bahan baku dan energi secara global. 

Purwono menyebutkan, pada saat ini harga bahan baku dan baja global relatif masih stabil, meskipun di beberapa wilayah, seperti Uni Eropa mengalami peningkatan. 

"Berbagai sumber melaporkan bahwa harga baja di kawasan Asia masih relatif tidak mengalami perubahan sebagai dampak konflik laut merah," kata Purwono kepada Kontan, Jumat (26/1).

Sementara, ia menuturkan pasar ekspor produk baja nasional yang utama adalah Tiongkok, Taiwan dan kawasan regional Asia tenggara. 

“Sehingga dampak konflik laut merah terhadap ekspor produk baja akan minimal,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×