kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.114   20,00   0,12%
  • IDX 7.463   155,30   2,13%
  • KOMPAS100 1.030   20,30   2,01%
  • LQ45 746   12,12   1,65%
  • ISSI 269   5,02   1,90%
  • IDX30 400   7,27   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,14   1,90%
  • IDX80 116   2,03   1,78%
  • IDXV30 135   2,04   1,53%
  • IDXQ30 129   2,25   1,77%

Konflik Timur Tengah Memanas, Industri Keramik Dalam Negeri Masih Aman


Jumat, 10 April 2026 / 09:50 WIB
Konflik Timur Tengah Memanas, Industri Keramik Dalam Negeri Masih Aman
ILUSTRASI. Pabrik keramik PT Arwana Citramulia Tbk (KONTAN/Dimas A Shadewo)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah yang terjadi beberapa waktu terakhir memengaruhi sejumlah industri di sektor manufaktur. Namun, dampaknya ke industri keramik domestik dinilai tak begitu signifikan.

Chief Operating Officer PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto mengatakan bahwa dampak langsung dari konflik Timur Tengah tidak terlalu dirasakan oleh produsen keramik.

Sebab, pasokan gas bumi Indonesia, yang melalui pipanisasi dari hulu ke Perusahaan Gas Negara (PGN) lalu ke semua anggota Asaki, semuanya berasal dari gas alam domestik. Dengan begitu, suplai gas untuk produsen keramik dalam negeri tak terdampak penutupan Selat Hormuz.

Baca Juga: Impor Indonesia Melonjak Tembus US$ 20,89 Miliar di Februari 2026, Ditopang Nonmigas

"Jadi kita tidak seperti India. India saat ini mengalami gangguan atau distorsi. Karena selama ini gas India berasal dari Timur Tengah. Sehingga mereka terpaksa, ya, harus menutup proses produksinya," jelas Edy usai paparan publik di Cikande, Banten, Rabu (8/4/2026).

Dari sisi bahan baku, dampak secara langsung disebut sangat minim. Edy bilang, bahan baku keramik Indonesia seperti glaze maupun ink memang mayoritas berasal dari negara Eropa seperti Italia, begitu juga spareparts untuk mesin keramik yang mayoritas datang dari Italia.

"Kebutuhan tersebut gampang disubtitusi oleh produk-produk serupa dari China. China ke Indonesia, dari sisi supply chain, tidak terpengaruh perang Timur Tengah," jelas Edy.

Sementara itu, kenaikan harga plastik efek perang Timur Tengah juga disebut tak begitu mengganggu, sebab industri keramik tak banyak menggunakan plastik termasuk untuk pengemasan atau packaging. "Karena keramik juga dibungkus tidak menggunakan plastik. Kita menggunakan karton box atau bahan baku kertas," ujarnya.

Menurut Edy, dampak bagi sektor manufaktur yang juga dirasakan produsen keramik hanya berkaitan dengan logistik. Di kuartal pertama tahun ini, Edy bilang ongkos pengangkutan kontainer dari pusat keramik di Jawa bagian Barat ke Sumatra, Kalimantan, maupun Sulawesi sudah naik 20%-30%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×