kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Pengusaha Tekstil: Konflik Timur Tengah Kerek Harga Bahan Baku Polyester hingga 15%


Minggu, 29 Maret 2026 / 14:23 WIB
Pengusaha Tekstil: Konflik Timur Tengah Kerek Harga Bahan Baku Polyester hingga 15%
ILUSTRASI. Karyawan melayani pelanggan di toko tekstil (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk produsen serat dan benang filamen, turut merasakan efek konflik Timur Tengah yang mengerek harga bahan baku polyester.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengatakan, harga bahan baku utama polyester turut terdampak mengingat material ini berasal dari produk petrokimia atau turunan dari minyak bumi dan gas.

“Dampak langsung terjadi pada harga paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG) sebagai bahan baku utama polyester yang saat ini sudah naik sekitar 15%,” katanya kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).

Menurut Redma, industri tekstil di bagian hulu sebenarnya mampu memaksimalkan produksi dalam negeri, yang dibutuhkan hanyalah impor kapas serta sedikit PX dan MEG.

Baca Juga: Efek Konflik Timur Tengah, Pengusaha Tekstil Pilih Sikap Waspada di Kuartal II-2026

Apabila ketidakpastian geopolitik berlanjut, lanjutnya, pasokan bahan baku impor berpotensi mengalami hambatan, sehingga perlu digantikan oleh pasokan dari dalam negeri.

Sedangkan, di sektor antara atau bagian tengah di rantai produksi, para pelaku usaha juga menurutnya mampu menggenjot produksi lokal untuk mengurangi ketergantungan impor yang harganya akan naik.

Sayangnya, produsen domestik kata Redma masih enggan meningkatkan produksi karena sikap waspada saat ini.

Baca Juga: Permintaan Tekstil & Garmen Terdongkrak Idulfitri, Tapi Tekanan Impor Masih Tinggi

“Produsen lokal masih belum percaya dengan kondisi saat ini, apalagi tanpa ada kepastian dan keberpihakan dari pemerintah ke depan terhadap produksi dalam negeri,” curahnya.

Artinya, secara kapasitas dan kualitas, industri dalam negeri dinilai sangat mampu memenuhi kebutuhan. Namun, untuk merealisasikannya, Redma mencermati pemerintah perlu memberikan jaminan untuk keberlanjutan pasar tekstil domestik.

Ia melanjutkan, di tengah ketidakpastian, saat ini produsen hulu tekstil yang masih beroperasi terus berupaya menjaga tingkat utilisasinya di atas 70% guna menjaga nilai keekonomian. “Meskipun, tingkat utilisasi secara nasionalnya masih sekitar 45%,” imbuh dia.

Baca Juga: Jelang Lebaran, Pengusaha Konveksi Kesulitan Cari Penjahit Profesional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×