kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45952,80   9,76   1.04%
  • EMAS1.014.000 -1,46%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Konglomerat Ramai-Ramai Masuk Bisnis Smelter, Apa Motifnya?


Kamis, 23 Desember 2021 / 18:31 WIB
Konglomerat Ramai-Ramai Masuk Bisnis Smelter, Apa Motifnya?
ILUSTRASI. Foto udara aktivitas pengolahan nikel (smelter) yang berada di Kawasan Industri Virtue Dragon Nickel Industrial (VDNI) di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara. ANTARA FOTO/Jojon/foc.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belakangan santer terdengar sejumlah konglomerat kompak masuk ke industri smelter.  

Kabar terhangat, perusahaan Garibaldi Thohir atau Boy Thohir PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melalui anak usahanya PT Adaro Alumunium Indonesia akan membangun smelter alumunium di Kawasan Industri Hijau Indonesia. Kemudian Kalla Group melalui PT Bumi Mineral Sulawesi sedang dalam proses membangun smelter di Luwu Industrial Park. 

Indonesia Mining Association (IMA) atau Asosiasi Pertambangan Indonesia menilai ada sejumlah motif yang mewarnai masuknya konglomerat ke industri smelter.  
Pelaksana Harian Direktur Eksekutif IMA Djoko Widajatno memaparkan, Industri Smelter di Morowali, (IMIP) sangat cepat berkembang dan tahun ini sudah menyumbangkan keuntungan. Oleh karenanya, pertumbuhan ekonomi tertinggi berada di sekitar smelter Industri di Sulawesi tenggara. 

"Motif pengusaha adalah mencari keuntungan yang cepat dan juga menjadi amanat Undang Undang untuk melakukan Hilirisasi," jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (23/12). 

Baca Juga: Adaro Energy (ADRO) Bakal Bangun Aluminium Smelter di Kawasan Industri Hijau

Djoko memperkirakan masuknya Haji Isam dalam industri smelter karena melihat peluang yang menjanjikan. 
Sementara PT  Adaro Energy melalui PT Adaro Alumunium Indonesia masuk ke industri smelter karena mungkin dikaitkan dengan perkembangan Industri dasar dari hasil smelter Bauksit dalam rangka memenuhi kebutuhan Industri konstruksi dan otomotif. 

Sedangkan, grup Amman Mineral adalah menjalankan instruksi dari UU No 3 tahun 2020 alias UU Mineral dan Batubara (Minerba). 

Kendati pengusaha besar sudah berbondong-bondong masuk ke industri smelter, Djoko melihat bahwa offtaker dari hilirisasi belum berkembang karena industri dalam negeri belum mampu menyerap hasil smelter. 

"Lantas ini yang menjadi pertanyaan, hilirisasi maju cepat, sedangkan Industri dasar maupun menengah masih stagnan," kata Djoko. 

Djoko berharap, pemerintah segera membangun Industri dasar dan menengah untuk dapat menyerap hasil hilirisasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×