Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan penyelidikan perpanjangan tindakan pengamanan perdagangan (TPP) terhadap impor produk evaporator tipe roll bond dan tipe fin terhitung mulai Selasa (7/4/2026).
Produk evaporator yang dimaksud mencakup satu nomor harmonized system (HS) 8-digit, yaitu ex8418.99.10, sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) tahun 2022. Penyelidikan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti permohonan perpanjangan pengenaan TPP yang diajukan PT Fujisei Metal Indonesia (PT FMI), produsen evaporator.
“Berdasarkan bukti awal permohonan penyelidikan perpanjangan yang disampaikan PT FMI, KPPI menemukan indikasi terjadinya kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang dialami pemohon,” ungkap Ketua KPPI Julia Gustaria Silalahi dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Industri Mulai Adaptasi Tekanan Rantai Pasok Global
Julia melanjutkan, indikasi tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator kinerja industri dalam negeri yang turun selama priode 2023—2025. Selain itu, PT FMI masih membutuhkan tambahan waktu untuk menyelesaikan program penyesuaian struktural.
Manager Marketing PT FMI Dwi Widodo mengatakan, dengan penyidikan perpanjangan ini, pihaknya berharap industri dalam negeri mampu bertahan dari ancaman kerugian yang bisa mengakibatkan terhentinya operasional.
"Selain itu, kami berharap industri dalam negeri dapat makin berdaya saing dibandingkan produk impor, khususnya dari Tiongkok,” ujar Dwi.
Kemendag mencatat, asal impor evaporator pada 2025 didominasi negara Republik Rakyat Tiongkok sebesar 97,69%, diikuti Thailand sebesar 2,05%, Meksiko sebesar 0,18%, Jepang sebesar 0,06%, serta negara lainnya sebesar 0,02%.
Adapun produk impor evaporator banyak digunakan pada industri produsen lemari es dan penyejuk udara (air conditioner) sebagai media atau alat sirkulasi freon dalam sistem pendingin lemari es dan lemari pembeku (freezer).
Baca Juga: Grab Andalkan AI untuk Tekan Biaya Bahan Bakar, CEO: Skala Perusahaan Jadi Kunci
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













