Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BEKASI. Pelaku industri baja menilai rencana pemerintah menata ekspor dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya kebutuhan impor bahan baku industri.
Direktur Komersial PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Hernowo mengungkapkan, industri baja masih bergantung pada sebagian bahan baku impor sehingga sangat sensitif terhadap pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut dia, kebutuhan bahan baku impor masih diperlukan lantaran kualitas bahan baku lokal belum sepenuhnya memenuhi standar efisiensi industri baja.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS): Konsumsi Baja RI Masih Rendah, Peluang Industri Masih Besar
“Batu kita itu kandungan bajanya kira-kira 60-an, sementara kalau pakai 60 nanti tidak efisien, sehingga kita harus mix dengan batu impor yang kandungannya mungkin 75%-80%,” ujarnya di Bekasi, Jumat (22/5/2026).
Karena itu, Hernowo bilang pelemahan rupiah menjadi tantangan bagi industri baja nasional. Apalagi transaksi impor bahan baku masih menggunakan valuta asing.
Ia menilai pemerintah tengah menyiapkan langkah penataan arus devisa hasil ekspor agar pasokan valuta asing di dalam negeri lebih terjaga. Salah satu opsi yang disebut yakni pengaturan tata kelola ekspor, termasuk pada produk alloy.
“Pemerintah sepertinya ingin membantu pemain-pemain kayak kita yang sering transaksi dengan luar negeri dengan cara menata supaya kalau kita ekspor, foreign currency yang masuk bisa tertata dengan bagus,” katanya.
Menurut Hernowo, langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat kembali nilai tukar rupiah sekaligus menjaga keberlanjutan industri yang bergantung pada impor bahan baku.
“Ya mudah-mudahan bisa memperkuat kembali nilai tukar rupiah,” tambah dia.
Baca Juga: Sokong Ketahanan Energi, PHE Pacu Strategi Dual Growth dan Bisnis Rendah Karbon
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













