kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Krisis Energi, Apindo Sarankan Pemangkasan Produksi Tambang Tidak Lebih dari 10%


Kamis, 26 Maret 2026 / 18:32 WIB
Krisis Energi, Apindo Sarankan Pemangkasan Produksi Tambang Tidak Lebih dari 10%
ILUSTRASI. Pertambangan nikel PT PAM Mineral Tbk (NICL). (Dok/NICL)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah lonjakan harga batubara dan nikel global, wacana pemangkasan produksi tambang justru menuai sorotan tajam. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) berharap jangan sampai kebijakan ini jadi rem mendadak yang berisiko mengganggu momentum cuan sektor tambang.

Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hendra Sinadia menyebut pemerintah perlu mempertimbangkan kembali terkait pemangkasan produksi komoditas tambang.  

“Mengingat kondisi perekonomian global dan nasional serta kenaikan harga komoditas sebaiknya pemotongan produksi tidak lebih dari 10% secara nasional dan dilakukan secara bertahap dan terkontrol,” kata Hendra kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga: Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) Raih Kinerja Ciamik di 2025, Ini Rinciannya

Hendra menambahkan, pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait dengan adanya potensi relaksasi produksi batubara tahun ini juga patut diapresiasi.

“APINDO mengapresiasi keinginan pemerintah untuk meninjau kembali pembatasan kuota produksi dalam persetujuan RKAB 2026 melalui relaksasi terbatas. Khusus untuk komoditas nikel, pemerintah pernah menyampaikan akan melakukan evaluasi produksi di bulan Juni atau Juli tahun ini,” jelas Hendra.

Adapun, APINDO menilai jika pemberlakuan relaksasi terbatas atas produksi tambang menjadi salah satu strategi yang akan dilakukan pemerintah, sebaiknya juga turut mempertimbangkan penetapan kriteria teknis yang meliputi beberapa parameter.

“Seperti contohnya kontribusi PNBP, kepatuhan terhadap DMO, kepatuhan terhadap kewajiban Lingkungan Hidup, kinerja produksi tahun lalu, kondisi keekonomian dunia usaha serta kesesuaian dengan studi kelayakan (feasibility study),” tambahnya.

Sebelumnya, relaksasi produksi tambang diungkap Bahlil usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, pada Rabu, 25 Maret 2026.

“Kami sudah melaporkan kepada Bapak presiden juga terkait dengan harga komoditas dan strategi. Yang jelas bahwa dalam rangka pengendalian suplai dan demand terhadap batubara maupun nikel, sampai hari ini tidak ada perubahan kebijakan apa-apa dari Menteri ESDM,” kata Bahlil dilansir dari youtube resmi Sekretariat Presiden, Kamis (26/3/2026).

“Sambil kita melihat perkembangan, kalau harganya stabil terus, bagus, kita akan bagaimana membuat relaksasi tapi terukur terhadap perencanaan produksi,” tambah Bahlil.

Bahlil juga menegaskan, hingga saat ini terkait kepastian produksi saat ini masih dalam batas koordinasi dengan pasar serta menyesuaikan dengan suplai dan permintaan.

Baca Juga: Dampak Konflik Global, Penjualan Ritel Indonesia Terancam Lesu hingga Kuartal III

“Yang penting harganya bagus terus, kita doakan harga batubara bagus, harga nikel bagus, kemudian bagaimana kita bisa melakukan relaksasi terukur, terbatas dan tetap menjaga suplai dan demand serta harga,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×