Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Krisis minyak dan gas karena adanya perang AS-Israel dengan Iran, yang mengakibatkan penutupan Selat Hormuz, sebagai jalur pelayaran penting yang menangani 20% pasokan minyak dan gas global, justru berdampak positif pada komoditas batubara.
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Sudirman Widhy Hartono, sejak pecahnya konflik, harga batubara di spot market atau pembelian langsung mengalami kenaikan
“Harga batubara saat ini di spot market menunjukkan tren yang naik, ini sehubungan dengan krisis minyak sebagai akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah,” ungkap Sudirman kepada Kontan, Rabu (25/03/2026).
Baca Juga: AMDATARA Prediksi Penjualan AMDK pada Kuartal II Meningkat, Cuaca Jadi Pemicu Utama
Selain itu, Perhapi menilai target pembatasan produksi batubara nasional melalui pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun ini di Indonesia juga turut mempengaruhi kenaikan tren harga. Mengingat Indonesia merupakan salah satu eksportir batubara terbesar yang menyuplai kebutuhan batubara di pasar global terutama di Kawasan Asia Timur; Asia Selatan dan Asia Tenggara.
“Seiring dengan kenaikan harga batubara tersebut, kami dari Perhapi mendorong agar pemerintah dapat menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin dengan mempertimbangkan kembali rencana pembatasan produksi,” tambahnya.
Menurut Sudirman, pemerintah dapat membuka peluang untuk meningkatkan kembali produksi batubara guna mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batubara di pasar global. Terutama untuk mengisi pasar dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam dan Malaysia yang sudah mendapatkan kesulitan untuk memenuhi energi nasionalnya.
“Ini juga sehubungan dengan krisis minyak internasional di Asia dan mereka memerlukan tambahan pasokan batubara untuk memenuhi kebutuhan energi nasionalnya,” kata Sudirman.
Jika menilik pada produksi batubara sepanjang tahun Ialu, Indonesia memiliki kemampuan dan kapasitas untuk memproduksi batubara hingga lebih dari 750 juta ton per tahun.
“Ini terbukti dengan realisasi produksi batubara nasional di tahun 2025 yang mencapai angka 790 juta ton,” katanya.
Baca Juga: Pasokan Biji Kakao Terbatas, Askindo Dukung Pemerintah Revitalisasi Tanaman Kakao
Dengan membatasi produksi nasional di kisaran 600 jutaan ton, menurut Perhapi hanya akan memberi peluang kepada negara-negara produsen batubara lain seperti Australia; Afrika Selatan; dan Kolombia untuk mengambil keuntungan dengan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Indonesia.
“Akhirnya negara-negara ini bisa mendapatkan keuntungan yang optimal dari harga batubara yang sedang tinggi di pasar global saat ini,” ungkapnya.
Diharapkan, dengan adanya peningkatan produksi batubara tengah harga pasar dan kebutuhan tinggi saat ini, pendapatan negara dari hasil ekspor batubara dapat memenuhi target Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2026 dari sektor pertambangan yang sudah dicanangkan oleh Kementerian ESDM sebelumnya sebesar kurang lebih Rp 134 triliun.
Sebagai tambahan, melansir Trading Economic, harga batubara sempat menyentuh harga tertinggi US$ 146,5 per ton pada 20 Maret 2026.
Kemudian turun kembali pada harga US$ 139 per ton pada Rabu (25/03/2026) di tengah tanda-tanda potensi de-eskalasi dalam konflik Timur Tengah.
Hal ini disebabkan karena Presiden Donald Trump menunda serangan lanjutan pada infrastruktur energi Iran selama lima hari kedepan dan mengatakan bahwa pembicaraan produktif dengan negara tersebut sedang berlangsung.
Baca Juga: Kinerja Pelabuhan Melambat, Biaya Logistik Terancam Naik Signifikan
Namun, Iran membantah terlibat dalam negosiasi dengan AS, menganggap pengumuman Trump sebagai upaya untuk memanipulasi pasar keuangan.
Harga batubara telah melonjak lebih dari 20% sejak perang Iran dimulai, karena gangguan berkepanjangan pada aliran minyak dan gas global memaksa pembangkit listrik di ekonomi besar untuk lebih bergantung pada batubara sebagai sumber listrik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













