Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melalui anak usahanya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mulai menambah pundi-pundi pendapatan dari penjualan aluminium. Merujuk informasi yang disiarkan oleh Reuters, pada bulan Juni 2026 Alamtri telah melakukan ekspor aluminium perdana ke Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan.
Reuters mengabarkan bahwa pada bulan lalu Alamtri telah mengirimkan 31.494 metrik ton aluminium primer ke AS dan sebanyak 3.569 ton ke Korea Selatan. Aluminium tersebut berasal dari produksi PT Kalimantan Aluminium Industry, anak usaha ADMR yang sudah mengoperasikan smelter aluminium tahap pertama pada akhir tahun 2025.
Corporate Communication Department Head Alamtri Resources Indonesia, Karina Novianti tidak merespons secara langsung mengenai kabar ekspor perdana aluminium ke AS dan Korea Selatan tersebut. Karina hanya menyatakan bahwa PT Kalimantan Aluminium Industry melihat tingginya minat dari calon pelanggan. Alamtri pun memproyeksikan bisa menjual hingga 350.000 ton aluminium ingot sepanjang tahun ini.
Baca Juga: DPR Tekankan Pengawasan Implementasi B50 demi Perkuat Kemandirian Energi
Tetapi, Karina belum merinci porsi penjualan aluminium ke pasar domestik maupun target pasar ekspor ADMR pada tahun ini. "Tujuan penjualan diperkirakan akan mencakup berbagai pasar, sesuai dengan permintaan pasar dan peluang bisnis yang ada. Untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan penjualan aluminium ingot hingga 350.000 ton untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor," kata Karina kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7/2026).
Saat ini, PT Kalimantan Aluminium Industry terus menjalankan proses commissioning serta peningkatan kapasitas produksi (ramp-up), dengan target mencapai kapasitas optimal pada akhir tahun 2026. Smelter aluminium tahap pertama memiliki kapasitas produksi sebesar 500.000 ton aluminium ingot per tahun.
Sebagai informasi, permintaan aluminium primer global meningkat dari 71,5 juta ton pada tahun 2024 menjadi 74,3 juta ton pada 2025. Permintaan aluminium diprediksi akan terus tumbuh pada 2026 dengan estimasi permintaan mencapai 75,8 juta ton. Sektor otomotif, terutama kendaraan listrik, diperkirakan masih menjadi pendorong utama permintaan aluminium.
Smelter PT Kalimantan Aluminium Industry yang sudah mulai beroperasi menambah kapasitas produksi aluminium di Indonesia. Dengan begitu, Indonesia dapat menjadi salah satu pemain aluminium utama di Asia Tenggara dengan estimasi total kapasitas terpasang tahun 2026 mencapai sekitar 1,75 juta ton, atau naik 3,5 kali dibandingkan tahun 2024.
Di sisi lain, Pemerintah mencatat pertumbuhan kinerja perdagangan industri aluminium. Kementerian Perdagangan menyampaikan bahwa selama Januari–Mei 2026, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 6,80% (c to c).
Pertumbuhan tersebut antara lain didorong meningkatnya ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) sebesar 64,33%. Peningkatan ini didukung membaiknya harga komoditas di pasar internasional serta meningkatnya permintaan global.
Baca Juga: Kunjungan Wisman Tumbuh 7,68% hingga Mei 2026, Wisata Domestik Masih Jadi Penopang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














