Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami penurunan hingga kuartal III-2026 alias periode Januari sampai September 2026.
Berdasarkan laporan keuangan, penjualan BRMS turun 8,71% secara tahunan (year on year/yoy) dari US$ 183,57 juta sepanjang Januari-September 2025 menjadi US$ 167,58 juta pada Januari-September 2026, sementara laba bersih merosot 36,86% yoy dari US$ 37,90 juta menjadi US$ 23,93 juta.
Direktur Bumi Resources Minerals, Herwin Wahyu Hidayat menjelaskan, akumulasi penurunan kinerja tersebut utamanya dipicu oleh tekanan operasional dan pasar di kuartal II-2026.
Baca Juga: Apjatel Minta Ada Dialog soal Kabel Udara, Soroti Kepastian Usaha Operator
Penurunan produksi saat itu disebabkan oleh adanya kegiatan pushback pada lokasi tambang terbuka di Poboya, Palu, yang memang telah diantisipasi sebelumnya.
"Namun demikian, kegiatan pushback ini sudah selesai pada bulan Juli 2026 lalu, dan kami sudah mulai menambang dari bukaan baru di area tambang terbuka kami. Oleh karenanya, produksi emas di kuartal III-2026 sudah meningkat cukup signifikan dari produksi di kuartal II-2026," ujarnya kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).
Selain faktor produksi, kinerja BRMS sempat tertahan akibat oversupply di pasar domestik di kuartal II-2026. Herwin menuturkan, lonjakan pasokan lokal terjadi seiring banyaknya eksportir yang mengalihkan penjualan ke dalam negeri menyusul pemberlakuan bea keluar (export duty) sebesar 10% hingga 12,5% sejak pertengahan tahun ini.
"Namun demikian sejak bulan Juni 2026, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals, telah menandatangani perjanjian dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk menjual sebagian besar produk emasnya dengan harga yang cukup kompetitif kepada ANTM setiap bulannya. Perjanjian jual beli ini berlaku sampai Juni 2028," tuturnya.
Herwin megungkapkan, tekanan pada kuartal kedua tahun ini juga dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas emas global yang sempat melandai secara kuartalan. Harga rata-rata penjualan emas dunia tercatat mengalami penurunan dari kisaran US$ 4.512 per ons troi pada kuartal I-2026 menjadi sekitar US$ 4.138 per ons troi pada kuartal II-2026.
Dia bilang, dampak dari gangguan operasional dan pergerakan harga di kuartal II-2026 tersebut memengaruhi akumulasi angka kinerja hingga September 2026. Penurunan sementara pada periode tersebut membuat pencapaian sembilan bulan pertama tahun ini terlihat menurun jika dibandingkan dengan capaian pada periode sama tahun lalu.
Baca Juga: Pasokan Nikel Berlebih, Empat Raksasa China Berencana Pangkas Produksi di Indonesia
Meskipun secara akumulatif tertekan, Herwin optimistis operasional perusahaan bakal berbalik tumbuh signifikan pada paruh kedua tahun ini. Optimisme tersebut didorong oleh dimulainya penambangan bijih emas kadar tinggi di atas 1,5 gram per ton dari bukaan area baru sejak kuartal ketiga dan kuartal keempat tahun 2026.
BRMS membidik volume produksi dan penjualan emas dapat mencapai rentang 65.000 hingga 70.000 ons troi hingga penutupan tahun 2026. Sementara untuk tahun 2027 mendatang, BRMS menargetkan volume produksi mampu melonjak hingga 90.000 ons troi emas seiring dimulainya penambangan bijih berkadar tinggi di atas 3 gram per ton.
Lebih lanjut, Herwin menambahkan, dari sisi pembiayaan, ekspansi operasional dan pengembangan fasilitas BRMS disokong oleh fasilitas pinjaman yang telah diamankan sejak akhir tahun lalu.
Pinjaman sindikasi dari sejumlah bank mulai dari Bangkok Bank, Bank Permata, BCA, dan Bank Mega di bulan November 2025 lalu, dialokasikan untuk mendanai berbagai proyek strategis serta kebutuhan belanja modal (Capex) perusahaan.
"Kami sudah mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar sekitar US$ 625 juta dari sindikasi beberapa bank. Tujuan penggunaan dana tersebut di antaranya untuk penyelesaian konstruksi tambang emas bawah tanah di Palu, peningkatan kapasitas produksi pabrik emas di Palu, kegiatan pengeboran eksplorasi untuk meningkatkan jumlah sumberdaya mineral tembaga di Gorontalo, dan untuk keperluan modal kerja dan belanja modal. Saat ini dana yang terpakai baru sebagian saja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














