kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.855   53,00   0,32%
  • IDX 8.244   -46,68   -0,56%
  • KOMPAS100 1.165   -6,49   -0,55%
  • LQ45 837   -4,98   -0,59%
  • ISSI 296   -0,58   -0,20%
  • IDX30 435   -0,64   -0,15%
  • IDXHIDIV20 521   0,32   0,06%
  • IDX80 130   -0,72   -0,55%
  • IDXV30 143   0,76   0,54%
  • IDXQ30 141   -0,18   -0,13%

Lagi, Inaplas koreksi target pertumbuhan industrinya menjadi 0,5% di 2020


Kamis, 07 Mei 2020 / 13:29 WIB
Lagi, Inaplas koreksi target pertumbuhan industrinya menjadi 0,5% di 2020
ILUSTRASI. Inaplas


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) sudah dua kali mengoreksi target pertumbuhan industri di sepanjang tahun ini karena terdampak virus corona. 

Di awal tahun, sebelum ada pandemi virus corona di Indonesia, Inaplas memproyeksikan industri kimia dan plastik mampu tumbuh di kisaran 5,2%. Namun, setelah pandemi corona merebak, target tersebut dipangkas menjadi 2,5%. 

Adapun pada Mei ini, Sekjen Inaplas Fajar Budiono mengungkapkan, target pertumbuhan industri Olefin, Aromatik dan Plastik menjadi hanya 0,5% saja di sepanjang tahun ini. 

Baca Juga: Gara-gara virus corona, API proyeksi industri TPT kontraksi 1,3% di 2020

Lebih lanjut, Fajar menjelaskan aktivitas bisnis anggota Inaplas ada di hulu dan hilir. 

"Di hilir ini memang drop lumayan, utilisasinya turun menjadi 40%-an karena daya beli yang menurun. Namun utilisasi di hulu masih normal 90%-95% ga ada masalah," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (6/5). 

Fajar menjelaskan untuk mengantisipasi tekanan yang makin berat, Inaplas berharap proses produksi dan distribusi baik hulu dan hilir jangan sampai terganggu. Apalagi ke sektor yang banyak menggunakan kemasan seperti sawit dan makanan olahan. 

Menurutnya di tengah Corona, geliat bisnis sektor sawit masih bagus, begitu juga dengan makanan olahan seperti mie instan dan air minum dalam kemasan (AMDK). 

Fajar mengingatkan juga kepada pemerintah supaya program Jaring Pengamanan Sosisal (JPS) bisa  tepat sasaran agar daya beli masyarakat tetap terjaga atau paling tidak habis lebaran tidak terlalu drop. 

"Jika program JPS tepat sasaran dan pada September daya beli bisa tumbuh, proyeksinya di Oktober hingga November utilisasi pabrik perlahan bisa naik," kata Fajar. 

Baca Juga: Kadin: Pertumbuhan industri bakal kian merosot di kuartal II-2020

Adapun untuk menjaga pertumbuhan industri  Olefin, Aromatik dan Plastik , Fajar mengungkapkan potensi ekspor di industri hulu lumayan terbuka.

Alhasil di bulan Mei, Inaplas menargetkan bisa mengekspor 30.000 ton sejumlah produk dari hulu di antaranya polyethylene, propylene untuk bisa diekspor ke China. Nanti menyusul di jual ke Bangladesh, India, dan beberapa negara yang sudah melonggarkan kebijakan lockdown

Di saat yang sama produk hilir seperti plastik, karung, dan lainnya juga sudah membidik pasar ekspor ke Malaysia, Thailand dan Filipina karena pasarnya sedang drop. 

Fajar berharap untuk menjaga daya saing ke luar negeri, kebijakan stimulus pajak dan penurunan harga gas industri bisa gampang dan cepat diimplementasikan. "Satu lagi yang terpenting adalah jaminan distribusi dan produksi harus dijaga," kata Fajar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×