kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Mengukur Kesiapan Revitalisasi Kilang Dumai Usai RDMP Balikapapan


Minggu, 25 Januari 2026 / 16:16 WIB
Mengukur Kesiapan Revitalisasi Kilang Dumai Usai RDMP Balikapapan
ILUSTRASI. Setelah Balikpapan, Kilang Dumai jadi sasaran RDMP. (pertamina/RDMP Balikpapan)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kilang pengolahan Bahan Bakar Minyak (BBM) Dumai yang terletak di Provinsi Riau, dibidik menjadi kilang selanjutnya yang akan dikembangkan menggunakan teknologi, Refinery Development Master Plan (RDMP) setelah RDMP Kilang Balikpapan yang diresmikan 12 Januari 2026.

Potensi RDMP Kilang Dumai juga telah disebut oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam agenda peresmian RDMP Balikpapan.

"Selain disini (Balikpapan), kita akan mengembangkan untuk storage dan kapasitas-kapasitas RDMP lain seperti di Dumai," ungkap Bahlil dalam agenda peresmian RDMP Balikpapan, di Balikpapan, Senin (12/1/2024).

Baca Juga: Kilang Balikpapan Memproduksi BBM Euro 5, Indonesia Setara Negara Maju

Senada, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebut terdapat potensi penerapan pada kilang berkapasitas 170 ribu barel per hari tersebut.

"Ada, ada potensi (RDMP Dumai). Jadi ekspansi kilang itu selalu ada karena yang diutamakan bagaimana meningkatkan kapasitas kilang biar bisa menyuplai dalam negeri," ungkap Laode saat ditemui di kawasan Parlemen Senayan, Kamis (22/1/2026).

Meski begitu, Laode bilang belum ada target atau tanggal pasti untuk menerapkan RDMP Kilang Dumai. Menurutnya, perlu ada kajian terhadap studi kelayakan (feasibility study) terlebih dahulu.

"Iya, harus ada kajian dulu," kata dia singkat.

Di sisi lain, praktisi sektor minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo mendorong terlaksananya RDMP di kilang Dumai. Jika disamakan dengan peningkatan produksi di kilang Balikpapan yang naik 100.000 barel per day, dari 260.000 menjadi 360.000 barel per day. Maka nantinya, Dumai akan mampu memproduksi 270.000 barel per hari (BPD).

"Tentu disarankan sebelum mengambil keputusan startegis seperti ini harus di lakukan FS yang komperhensif dulu agar pelaksanaan di lapangan bisa berjalan dengan baik," kata dia kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Baca Juga: Usai Kilang Balikpapan, Pemerintah Bidik Kilang Dumai Jadi Proyek RDMP Berikutnya

Ismoyo juga menjelaskan dalam pengembangan proyek migas khususnya di hulu, terdapat rule of thumb atau acuan umum dengan periode 36 bulan hingga 48 bulan (3-4 tahun) yang merujuk pada waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mengembangkan suatu proyek hulu migas dari tahap Final Investment Decision (FID) hingga onstream (produksi pertama). 

"Dalam kaidah engineering oil and gas plant, rule of thumb-nya sekitar 36 sampai 48 bulan. Harus dipastikan, tanpa masalah non teknis. Artinya tidak ada masalah teknikal, finance dan non teknis lainnya," jelas dia.

Adapun mengenai biaya pengembangan RDMP, Ismoyo bilang dengan kapasitas produksi awal yang hampir mirip dengan kilang Balikpapan, pengembangan RDMP Dumai, setidaknya akan memiliki cost yang sama dengan RDMP Balikpapan.

"Tentunya cost-nya kurang lebih sama. Namun karena sudah pengalaman di RDMP Balikpapan, seharusnya kita bisa sedikit lebih murah dan lebih cepat," kata Ismoyo.

Baca Juga: RDMP Balikpapan Diresmikan, Impor Solar Mulai Dihentikan Tahun Ini

Sebagai gambaran, RDMP Balikpapan memiliki investasi total mencapai US$ 7,4 miliar atau setara dengan Rp 123 triliun.

Saat ini kapasitas kilang di Indonesia mencapai 1,28 juta BPD dengan kebutuhan dalam negeri mencapai 1,5 juta BPD. Indonesia masih akan mengimpor 0,22 juta BPD BBM dari luar negeri.

"Jika Kilang Dumai kapasitasnya naiknya bisa mencapai 100 ribu (bpd) menjadi 270 ribu (bpd), maka akan signifikan tambahan produksi dalam negeri, menjadi 1.38 juta bpd. Dan hanya sedikit impor, kurang-lebih 0,12 juta bpd BBM," jelas Ismoyo.

Ismoyo menambahkan, jika target ini tercapai, artinya RDMP Balikpapan dan Dumai akan menyumbang hampir 14% kebutuhan BBM nasional.

Meski begitu, dia memberikan catatan, Indonesia masih akan tetap mengimpor minyak mentah atau crude oil, meskipun kapasitas pengolahan kilang, melalui RDMP Balikpapan dan jika RDMP Dumai, berjalan.

"Paralel, kebutuhan crude kilang juga semakin besar. Tambahan 200.000 bpd BBM kalau kita hitung dari Balikpapan dan Dumai saja setidaknya membutuhkan 285.000 crude oil dengan rendemen rata rata 0.7," jelasnya.

Adapun, percepatan RDMP kilang, utamanya Dumai juga diamini oleh Founder Dwi Soetjipto Research Center (DSRC) sekaligus mantan Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto.

"Setelah Balikpapan yang perlu adalah Dumai, karena alasan kualitas produk, disamping upaya peningkatan kapasitas, dan efisiensi. Jadi semakin besar kapasitas maka akan semakin efisien," ungkap Dwi kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Ia juga mengingatkan agar hambatan pada RDMP Balikpapan tidak terjadi di Dumai. Asal tahu saja, RDMP Balikpapan telah diinisiasi sejak 2016 lalu, dengan target awal selesai pada 2020, namun molor 6 tahun hingga baru diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2026.

"Dari dulu pembangunan kilang selalu ada hambatan. Banyak yang tidak suka Indonesia menambah kapasitas kilangnya," kata dia.

Sama seperti Ismoyo, Dwi bilang proyek ini bisa selesai setidaknya dalam waktu 4 tahun atau maksimal 48 bulan.

"Proyek RDMP Dumai mestinya bisa 4 tahun," tutupnya. 

Selanjutnya: Semen Baturaja (SMBR) Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Dobel Digit pada 2026

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×