kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.692.000   -2.000   -0,12%
  • USD/IDR 16.455   -90,00   -0,55%
  • IDX 6.485   -120,73   -1,83%
  • KOMPAS100 947   -17,38   -1,80%
  • LQ45 731   -16,06   -2,15%
  • ISSI 204   -1,87   -0,91%
  • IDX30 378   -10,17   -2,62%
  • IDXHIDIV20 460   -10,54   -2,24%
  • IDX80 107   -1,84   -1,69%
  • IDXV30 113   -1,14   -1,00%
  • IDXQ30 124   -3,16   -2,48%

Menilik Kemampuan Indonesia Mengurangi Ketergantungan Impor Alat Kesehatan


Kamis, 27 Februari 2025 / 16:11 WIB
Menilik Kemampuan Indonesia Mengurangi Ketergantungan Impor Alat Kesehatan
ILUSTRASI. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Istana Kepresidenan, Jakarta. Indonesia tengah berupaya mengurangi ketergantungannya pada impor alat kesehatan, salah satu caranya adalah meningkatkan jumlah produksi.


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia tengah berupaya mengurangi ketergantungannya pada impor alat kesehatan. Salah satu langkah penting dalam mewujudkan kemandirian industri alat kesehatan adalah dengan meningkatkan produksi dalam negeri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa produksi alat kesehatan lokal sangat penting dalam memastikan ketahanan sistem kesehatan nasional.  

Dalam acara peluncuran mesin hemodialisa dan kantong darah buatan PT Oneject Indonesia di Cikarang, Bekasi, Menkes menyampaikan bahwa tingginya kebutuhan alat kesehatan, terutama mesin hemodialisis dan kantong darah, menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Saat ini, mayoritas alat kesehatan masih bergantung pada impor. Padahal, alat-alat ini memiliki peran krusial dalam pelayanan kesehatan, seperti perawatan pasien gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah secara rutin.  

Baca Juga: Aspaki: Industri Alat Kesehatan Ditargetkan Tumbuh 8% pada 2025

"Kita masih sangat bergantung pada impor alat kesehatan dan bahan baku farmasi. Dari Rp640 triliun belanja kesehatan nasional, sekitar Rp250 triliun dialokasikan untuk alat kesehatan dan bahan habis pakai, di mana mayoritas masih berasal dari luar negeri," ujar Menkes Rabu (26/1).

Dukungan Pemerintah dan Pelaku Industri

Pemerintah terus mendorong industri dalam negeri untuk mengembangkan dan memproduksi alat kesehatan secara mandiri. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah melalui kebijakan peningkatan produksi dalam negeri serta insentif bagi pelaku industri yang berinvestasi di sektor ini.  

Direktur Utama PT Oneject Indonesia, Jahja T. Tjahjana, memastikan pihaknya siap mendukung transformasi sistem kesehatan nasional dengan memproduksi alat kesehatan yang dibutuhkan dalam negeri. Saat ini, Oneject mampu memproduksi sekitar 6 juta kantong darah dan 1.200 hingga 1.500 unit mesin hemodialisa per tahun.  

"Pada tahap awal, kami akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasien dalam negeri. Kami berharap dapat menyediakan sekitar 70 persen dari kebutuhan kantong darah Palang Merah Indonesia (PMI),” ujar Jahja.  

Upaya ini juga mendapat apresiasi dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla yang menekankan pentingnya produksi alat kesehatan dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan nasional terhadap kantong darah mencapai 5 juta unit per tahun, di mana mayoritas masih dipenuhi dari luar negeri.  

"Oleh karena itu, dengan adanya produk kantong darah dalam negeri, kita bisa mendukung ketahanan kesehatan nasional sekaligus memastikan distribusi darah yang lebih merata di seluruh Indonesia," kata Jusuf Kalla.  

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski pemerintah dan industri telah berupaya mengurangi ketergantungan impor, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah regulasi yang dinilai masih menghambat perkembangan industri alat kesehatan dalam negeri. Jusuf Kalla menekankan bahwa birokrasi yang panjang sering kali memperlambat produksi alat kesehatan lokal.  

Selain itu, bahan baku untuk alat kesehatan dan farmasi juga masih banyak diimpor. Menkes Budi menyebut bahwa meskipun obat generik sudah diproduksi di dalam negeri, bahan bakunya masih bergantung pada impor. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan nasional.  

Ke depan, pemerintah berencana untuk terus mendorong investasi di sektor alat kesehatan serta memberikan insentif bagi perusahaan yang memproduksi alat kesehatan dalam negeri. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan meningkatkan kontribusi sektor kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).  

Dengan meningkatnya produksi alat kesehatan dalam negeri, Indonesia berpeluang untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatannya. Jika berbagai hambatan, seperti regulasi dan ketergantungan bahan baku impor, dapat diatasi, maka kemandirian alat kesehatan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dapat meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. 

Baca Juga: GAC International Akan Operasikan Pabrik Mobil Listrik di Cikampek pada April 2025

Selanjutnya: Simak Kondisi Permodalan Industri Asuransi Tahun 2024

Menarik Dibaca: Resep Telur Saus Tiram Praktis, Menu Sahur Anak yang Enak Banget

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×