kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menilik Penyebab Lesunya Kinerja Bisnis Ritel Saat Ini


Senin, 30 Oktober 2023 / 18:54 WIB
Menilik Penyebab Lesunya Kinerja Bisnis Ritel Saat Ini


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang tahun pemilu, bisnis ritel masih lesu. Padahal, sektor ritel disebut-sebut akan moncer di momentum pesta demokrasi ini. Emiten yang kinerjanya lesu antara lain Matahari (LPPF), Hero Supermarket (HERO), dan Matahari Putra Prima (MPPA).

Diberitakan KONTAN sebelumnya, hasil Survei Penjualan Ritel Bank Indonesia (BI) menunjukkan, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan September 2023 sebesar 200,2 atau turun 1,9% MoM dari 204,1 pada bulan sebelumnya.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, penjualan ritel pada kuartal III-2023 sedikit menurun dibandingkan dengan kuartal II-2023. Pada kuartal IV-2023, Azis memprediksi penjualan ritel bisa berpotensi kembali meningkat karena adanya momen natal dan tahun baru serta momen kampanye yang akan dimulai pada november nanti.

Baca Juga: Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Optimitis Tren Pertumbuhan Berlanjut Hingga Akhir Tahun

Chief Executive Officer PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), Terry O’Connor mengatakan, situasi ekonomi yang lemah saat ini telah berdampak pada Matahari seperti yang terlihat pada angka-angka kuartal ketiga LPPF.

Ia menjelaskan, penjualan kotor Januari - September 2023 mencapai Rp 9,6 triliun, atau tumbuh sebesar 1,4%. Namun, pertumbuhan penjualan toko yang sama (SSSG) tercatat sebesar -2,3%, didorong oleh kurangnya stimulasi Lebaran dan lesunya perekonomian setelahnya.

"Dibandingkan tahun sebelumnya, kuartal ketiga ini merupakan kuartal yang penuh tantangan mengingat di tahun lalu terdapat permintaan terpendam (pent-up demand) terkait penjualan selama periode back-to-school," kata Terry saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (30/10).

Terry menerangkan, di tahun ini tekanan biaya hidup meningkat, khususnya terkait daya beli masyarakat kelas bawah, krisis peningkatan biaya hidup secara global dan regional telah diperburuk oleh kenaikan harga bahan bakar, tekanan inflasi pada barang dan jasa, dan berkurangnya bantuan terkait Covid.

"Kami sangat berharap situasi ini akan mereda seiring dengan meredanya inflasi, berlanjutnya dampak peningkatan upah, dan berkurangnya tekanan pinjaman mikro," ujarnya.

Baca Juga: Kinerja Matahari (LPPF) Lesu pada Kuartal III, Begini Kata Analis

Meskipun demikian, lanjut Terry, LPPF akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan portofolio persediaan barang dagangan dan mempercepat pengadaan kapasitas untuk menghadirkan barang dagangan yang lebih baru, lebih relevan, dan dengan harga yang lebih kompetitif.

Selain itu, LPPF juga akan mempercepat pengenalan portofolio merek yang lebih baik, termasuk koleksi merek eksklusif baru kami, Anyday, sebagai merek entry-level untuk mengimbangi tekanan inflasi.

Terry menambahkan, demi meningkatkan produktivitas barang dagangan, akan ada juga fokus yang lebih besar dalam memaksimalkan penjualan persediaan pada harga normal, dan upaya untuk mempercepat pengurangan persediaan lama yang dilakukan pada kuartal terkait yang berdampak pada margin kotor.

Melansir laporan keuangan Hero Supermarket dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada periode semester I-2023, HERO membukukan beban usaha Rp 968,1 miliar, biaya keuangan Rp 210,78 miliar, penghasilan keuangan Rp 4,26 miliar, dan penghasilan lainnya RP 872 juta.

Dari rincian tersebut, HERO membukukan rugi sebelum pajak penghasilan sebesar Rp 157,58 miliar, lebih dalam dibanding rugi sebelum pajak pada semester I 2022 yang tercatat sebesar Rp 123,8 miliar.

Adapun, emiten pengelola jaringan ritel Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sepanjang paruh pertama 2023 mengalami kerugian sebesar Rp 145,38 miliar. Nilai kerugian ini turun 8,33% dibandingkan semester I-2022 sebesar Rp 158,6 miliar.

Baca Juga: Produsen Mamin Berpotensi Mengerek Harga Jual ke Konsumen Imbas Pelemahan Rupiah

Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Azis Setyo Wibowo menilai, ketatnya persaingan memang menjadi tantangan bagi ritel di Indonesia, ke depannya prospek bisnis ritel masih memiliki potensi membaik.

"Yang terpenting adalah bagaimana penerapan strategi perusahaannya dan mengikuti kondisi trend di masyarakat saat ini," ujarnya saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (30/10).

Ia memandang, untuk masuk online dan market place memang bisa menjadi strategi perusahaan untuk memperluas pasarnya dan mengikuti gaya belanja masyarakat saat ini, tetapi tetap ketatnya persaingan menjadi tantangan bagi peritel di Indonesia peritel juga harus memikirkan bagaimana strategi menarik masyarakat untuk belanja pada storenya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×