kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Mentan: Hemat Rp 50 T hasil pengendalian pangan


Kamis, 24 September 2015 / 12:06 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah telah berupaya keras untuk mengendalikan impor pangan. Menurut Amran, jelang satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, kegiatan impor pangan yang dilakukan Indonesia menurun.

"Perlu dicatat bahwa pemerintah menghemat devisa Rp 50 triliun karena kerja keras pemerintah," kata Amran saat ditemui seusai shalat Id di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (24/9).

Ia mengatakan, Presiden Jokowi kerap memberikan pengarahan minimal dua minggu sekali untuk melindungi petani Indonesia dengan memperkuat ekspor karena impor dinilai akan melemahkan para petani.

Salah satunya adalah beras, yang hingga hari ini belum ada impor. Amran mengklaim bahwa Kementerian Pertanian bersama TNI, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Perdagangan, serta Bulog telah berupaya keras mengendalikan impor beras.

Begitu juga dengan bawang. Jika sebelum bulan Ramadhan lalu ada rencana untuk mengekspor bawang, saat ini Indonesia sudah mengekspor sekitar 2.000 ton bawang dan tidak lagi mengimpor.

"Kebutuhan bawang sudah cukup. Tahun ini tidak ada impor, kita ekspor," ucap Amran.

Selain bawang, Indonesia juga mengekspor jagung. Meskipun masih mengimpor, tetapi jumlahnya lebih rendah dari tahun sebelumnya. Ekspor yang dilakukan sudah sekitar 400.000 ton.

Amran berharap bahwa perkembangan sektor pangan akan lebih baik. Ia bertekad untuk tetap mengendalikan impor pangan.

"Tahun '98 impor 7,1 juta ton (beras) dengan posisi sama, El Nino kuat. Dibandingkan ya, sekarang ini belum ada impor, tapi El Nino-nya sama '98, bahkan cenderung lebih kuat," ujar Amran. (Nabilla Tashandra)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×