kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.094
  • SUN95,65 0,01%
  • EMAS671.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Menteri Susi Pudjiastuti minta nelayan jaga ekosistem laut tetap lestari

Rabu, 06 Februari 2019 / 17:32 WIB

Menteri Susi Pudjiastuti minta nelayan jaga ekosistem laut tetap lestari
ILUSTRASI. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melihat hasil tangkapan nelayan Jembrana

KONTAN.CO.ID - TRENGGALEK. Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja ke kawasan pesisir selatan Jawa Timur pada sejak Minggu (3/2) dan melakukan sejumlah aktivitas seperti Giat Laut. Dalam kesempatan tersebut, MKP meminta nelayan menjaga ekosistem laut untuk tetap lestari. 

Berdasarkan rilis KKP Rabu (6/2) menjelaskan pada hari Senin (4/2), Susi didamipingi oleh Gus Ipin menyusuri laut dari Rumah Apung, Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo menuju ke Pantai Mutiara.
Dalam kunjungan tersebut Susi berdialog bersama warga setempat di Desa Karanggongso, Kecamatan Watulimo.


Didampingi oleh Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar, Kepala BKIPM Rina, dan Gus Ipin, ia menyerap aspirasi dari warga desa yang mayoritas berporfesi sebagai nelayan.  Dalam kesempatan itu, Susi mengingatkan para nelayan tentang pentingnya menjaga keberlanjutan eskosistem laut secara bersama-sama.

Salah satu upayanya ialah dengan tidak menggunakan rumpon-rumpon untuk menangkap benur (benih udang lobster) dan menghentikan penggunaan cantrang. Hal ini turut terpantik oleh alat benur lobster yang ditemukannya saat menuju Pantai Mutiara sebelumnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan para nelayan dengan menangkap benur lobster merugikan kehidupan nelayan sendiri. Benur-benur itu ditangkap dan dijual Rp 30.000 per ekor. Sementara bandar yang menjadi pengepul sudah mengambil keuntungan Rp 15.000 per ekor.

Padahal jika dibiarkan beberapa lama, benur itu bisa laku jutaan rupiah. Selain itu, rumpon-rumpon tersebut juga mengancam ekosistem ikan, ikan akan tertipu dengan rekayasa tempat berlindung tersebut, sehingga tidak mau bertelur di kawasan pantai dan sekitarnya.

"Fish Aggregation Devices itu berbahaya untuk ekologi ikan, ikannya keliling pusing, karena disangkanya itu rumahnya. Jadi dia tidak kembali ke pinggir pantai untuk bertelur untuk beranak pinak,” tambahnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar para nelayan menghentikan penggunaan rumpon dan cantrang.

"Ini PR kita bersama. Semua main rumpon. Nelayan menengah main rumpon, nelayan besar apalagi. Ini kesalahan fatal dalam menjaga ekosistem ikan (agar) terus ada dan banyak. Cantrang dan jaring dulu 2 inchi, sekarang 1,25 inchi. Kenapa gak pake kelambu nyamuk (sekalian) saja? Semua kena, kita semua yang bermasalah,” tegasnya.

Reporter: Noverius Laoli
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0533 || diagnostic_web = 0.4100

Close [X]
×