kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Minat Baca Masih Kuat, Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Tembus Cetakan ke-100


Minggu, 24 Mei 2026 / 14:44 WIB
Minat Baca Masih Kuat, Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Tembus Cetakan ke-100
ILUSTRASI. Asisten Manajer Penerbit Grasindo, Yayi Dewintya Murni (KONTAN/Hervin Jumar)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) menyebut, keberhasilan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menembus cetakan ke-100 dalam waktu sekitar satu tahun menjadi bukti industri literasi nasional masih memiliki pasar yang kuat.

Asisten Manajer Penerbit Grasindo Yayi Dewintya Murni mengatakan, pencapaian tersebut tergolong langka di industri penerbitan nasional karena tidak banyak buku mampu bertahan di posisi penjualan tertinggi hingga mengalami puluhan kali cetak ulang.

Baca Juga: Dunia Usaha Didorong Perkuat Bisnis Berbasis Keanekaragaman Hayati

“Jarang ada buku yang terbit setahun lalu, terus nomor satu di seluruh Indonesia dan langsung cetakan ke-100 di tahun berikutnya,” ujar Yayi saat acara syukuran cetakan ke-100 novel tersebut di Gramedia Jalma, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, capaian itu menunjukkan persoalan literasi di Indonesia tidak semata-mata terkait rendahnya minat baca masyarakat, melainkan juga kemampuan industri menghadirkan karya yang relevan dan dekat dengan pembaca.

Cetak Ulang Kurang dari Sebulan

Yayi menjelaskan, pada umumnya penerbit hanya mencetak sekitar 1.500 hingga 3.000 eksemplar untuk penerbitan awal sebuah buku. Tidak sedikit pula buku yang berhenti di cetakan pertama karena minim permintaan pasar.

Namun, novel karya Brian Khrisna yang terbit pada Februari 2025 tersebut justru mengalami cetak ulang kurang dari satu bulan setelah peluncuran.

Baca Juga: Bandara Kertajati Disiapkan Jadi Hub Perawatan Pesawat Militer Hercules Asia

“Belum sebulan terbit, buku ini sudah cetak ulang. Itu sudah bisa dikatakan bestseller,” katanya.

Grasindo mencatat penjualan novel tersebut telah melampaui 250.000 eksemplar sejak dirilis ke pasar.

Tema Kesehatan Mental Dekat dengan Pembaca

Menurut Yayi, salah satu faktor pendorong tingginya penjualan novel tersebut adalah tema kesehatan mental yang dikemas ringan dan mudah dipahami sehingga mampu menjangkau pembaca baru.

Baca Juga: Pemadaman Listrik di Sumatra Picu Tuntutan Investigasi dan Kompensasi

Ia menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang tertarik membaca selama tersedia karya yang relevan dengan pengalaman sehari-hari dan isu yang dekat dengan generasi muda.

“Yang katanya minat baca Indonesia kurang, tetapi nyatanya ini bisa sampai cetakan ke-100. Jadi kalau dibilang tidak ada pembaca atau pembaca Indonesia menurun, itu juga tidak sepenuhnya benar,” ujarnya.

Industri Buku Masih Hadapi Tantangan Pembajakan

Meski demikian, Yayi menilai industri penerbitan nasional masih menghadapi tantangan struktural, terutama maraknya pembajakan buku yang merugikan seluruh rantai industri, mulai dari penulis, penerbit, hingga percetakan.

Baca Juga: Indonesia Dorong Jadi Price Maker Sawit Dunia, Ini Strategi yang Perlu Disiapkan

“Ini tidak hanya merugikan penulis, tapi merugikan penerbit dan banyak pihak karena membaca itu sudah menjadi sebuah industri,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat memperkuat ekosistem industri buku nasional, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan bacaan bertema kesehatan mental dan isu sosial.

Sudah Terbit di Jepang, Siap Difilmkan

Selain sukses di pasar domestik, novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati juga telah diterbitkan dalam versi bahasa Jepang dan dijadwalkan terbit di Malaysia pada Juni 2026.

Tak hanya itu, adaptasi film dari novel tersebut juga direncanakan tayang pada 2026.

Baca Juga: Termasuk Judi Online, Komdigi Blokir Polymarket Seperti di Negara Lain

Yayi berharap keberhasilan novel tersebut dapat menjadi pemicu bagi karya-karya lokal lain untuk berkembang dan memperluas basis pembaca nasional.

“Harapannya tidak hanya buku ini, tetapi buku-buku lain dan karya penulis Indonesia juga bisa menemukan rumah bagi pembacanya,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×