kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Dunia Usaha Didorong Perkuat Bisnis Berbasis Keanekaragaman Hayati


Minggu, 24 Mei 2026 / 14:27 WIB
Dunia Usaha Didorong Perkuat Bisnis Berbasis Keanekaragaman Hayati
ILUSTRASI. Ketum Apindo Shinta W Kamdani yang juga Honorary Trustee IBCSD, (KONTAN/Lailatul Anisah)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dunia usaha didorong mengambil peran lebih besar dalam menjaga keanekaragaman hayati di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem Indonesia.

Bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) meluncurkan Rencana Aksi Bisnis Indonesia untuk Keanekaragaman Hayati (KIRANAS) 2026–2028 sebagai peta jalan implementasi bisnis berkelanjutan berbasis perlindungan alam.

Dokumen yang disusun bersama Business for Nature itu dirancang untuk membantu perusahaan mengintegrasikan aspek keanekaragaman hayati ke dalam strategi bisnis dan operasional. 

Baca Juga: Pengangguran Tinggi, Dunia Usaha Dorong Kesiapan Kerja Generasi Produktif

Langkah ini dinilai semakin mendesak seiring meningkatnya tuntutan pasar global, investor, hingga rantai pasok terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan ekosistem yang menopang berbagai sektor ekonomi, mulai dari penyediaan bahan baku, jasa air, hingga kesuburan lahan.

Namun, tekanan terhadap lingkungan terus meningkat. Pada 2024, sekitar 16,8% ekosistem mangrove dan 28,9% terumbu karang tercatat dalam kondisi rusak. Sementara itu, angka deforestasi netto mencapai 175,4 ribu hektare.

Kerusakan tersebut dipicu oleh perubahan penggunaan lahan, eksploitasi sumber daya alam, polusi, perubahan iklim, serta kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi ini membuat perusahaan menghadapi risiko yang semakin besar terhadap keberlanjutan operasional dan rantai pasok bisnis mereka. 

KIRANAS hadir untuk menjembatani kesenjangan antara komitmen keberlanjutan perusahaan dengan implementasi di lapangan.

Baca Juga: Aktivitas Dunia Usaha Diproyeksi Menguat di Kuartal II-2026, Cermati Penopangnya

Melalui pendekatan terstruktur, perusahaan didorong menilai risiko dan ketergantungan terhadap keanekaragaman hayati, menentukan prioritas aksi, serta mengintegrasikan prinsip nature-positive dalam pengambilan keputusan bisnis.

"Perusahaan dituntut untuk membangun model bisnis yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga tangguh dan bertanggung jawab terhadap alam," ujar Honorary Trustee IBCSD, Shinta W Kamdani dalam siaran pers, Minggu (24/5/2026).

KIRANAS juga disiapkan agar selaras dengan berbagai agenda nasional, seperti RPJMN 2025–2029, Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, FOLU Net Sink 2030, hingga target Net Zero Emission 2060. 

Selain itu, peta jalan tersebut juga mengacu pada Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF).

Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, Nizhar Marizi, mengatakan pengelolaan keanekaragaman hayati kini menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi nasional.

"Pengelolaan keanekaragaman hayati tidak dapat dipandang semata sebagai agenda lingkungan, melainkan sebagai bagian integral dari arah pembangunan nasional menuju ekonomi yang tangguh, rendah karbon, dan berkelanjutan,:” ujarnya.

Baca Juga: Dunia Usaha Melambat di Akhir 2025

Sementara itu, Asia Lead for Business for Nature Conservation International APAC, Pallavi Kalita, menilai tantangan terbesar dunia usaha saat ini adalah menerjemahkan komitmen global menjadi aksi nyata di tingkat operasional.

"KIRANAS menyediakan peta jalan yang terstruktur bagi perusahaan di Indonesia untuk menghubungkan operasional bisnis mereka dengan target keanekaragaman hayati di tingkat nasional maupun global," kata dia.

Selain mendorong implementasi bisnis ramah lingkungan, KIRANAS juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Program ini turut mendorong harmonisasi pelaporan keberlanjutan agar perusahaan tidak terbebani berbagai standar pelaporan yang terfragmentasi.

Baca Juga: Dunia Usaha Melambat di Awal 2026, Kadin Soroti Pelemahan Daya Beli Masyarakat

Dalam implementasinya, Indonesia Business & Biodiversity Platform (IBBP) yang diinisiasi IBCSD akan berperan sebagai wadah kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan konsolidasi data kontribusi sektor swasta terhadap target keanekaragaman hayati nasional.

Ke depan, implementasi KIRANAS akan difokuskan pada penguatan kapasitas pelaku usaha, pengembangan proyek percontohan, serta penyediaan ruang berbagi pembelajaran agar semakin banyak perusahaan mampu menerapkan prinsip nature-positive dalam kegiatan bisnisnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×