kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Nasib Peritel yang Kejepit Si Besar dan Si Kecil


Senin, 29 Desember 2008 / 12:55 WIB


Sumber: KONTAN |

JAKARTA. Boleh dibilang, kelas supermarket adalah peritel yang terjepit di antara ekspansi hipermarket dan minimarket. Menurut catatan Nielsen, pertumbuhan penjualan di segmen supermarket masih kalah ketimbang hipermarket atau minimarket. "Pertumbuhan supermarket pada tahun 2008 cuma 6%," kata Yongky Suryo Susilo, Direktur Layanan Peritel PT AC Nielsen Indonesia.

Imbasnya tampak jelas. Hero Supermarket, misalnya, menciutkan gerai yang dirasa tidak produktif. Hingga, akhirnya dia mempertahankan gerai Hero Supermarket yang betul-betul pas dengan segmen pasar yang dituju, yakni menengah ke atas. "Barang-barang yang ada di Hero pun kebanyakan barang pilihan dan impor," kata Sugianto Wibawa.

Adapun kelas department store condong stagnan. Para pemainnya masih yang itu-itu saja, yakni Matahari Department Store dan Ramayana Department Store. Sama seperti di kelas supermarket, para pemain di tingkat department store ini tidak terlalu ambisius untuk ekspansi.

Ambil contoh Matahari. Meski mengaku department store gacoannya masuk prioritas pengembangan, tapi pihak manajemen hanya berani melakukan ekspansi tidak lebih dari empat gerai saja. "Kami sendiri juga akan bijak dalam hal pembelanjaan," tukas Setyadi Surya, Direktur Sumber Daya Manusia dan Humas PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×