Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Patra Niaga memastikan proyek Strategis Nasional (PSN) Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban terus bergulir di tengah desakan percepatan dari pemerintah.
Saat ini, Pertamina bersama mitra strategisnya asal Rusia, Rosneft, tengah mematangkan fase penting sebelum masuk ke tahap konstruksi fisik.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, operasional proyek ini dilakukan melalui PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).
Baca Juga: Perkuat Daya Saing, APKI Dukung Pengembangan Pasar Karbon Kehutanan
"Saat ini PRPP sedang dalam proses perolehan final investment decision (FID) secara paralel menyelenggarakan tender kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) Proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (13/5/2026).
Terkait pendanaan, Roberth menegaskan komitmen modal tetap berjalan sesuai porsi kepemilikan saham, di mana Pertamina memegang 55% dan Rosneft 45%.
Menurutnya, dalam kegiatan operasional PRPP, setiap pemegang saham berkontribusi dalam pembiayaan proyek sesuai dengan porsi masing-masing yang telah ditetapkan.
Roberth tak menampik bahwa pembangunan kilang baru ini memiliki tantangan teknis. Dia bilang, dengan skala Nelson Complexity Index mencapai 13,3, proyek Tuban masuk dalam kategori kilang dengan kompleksitas tinggi.
Sehingga, lanjut Roberth, hal ini memerlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam persiapannya agar memenuhi standar teknis dan kepatuhan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Guna menjawab harapan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait percepatan investasi, Pertamina terus berkoordinasi dengan berbagai lembaga negara. Tujuannya adalah untuk memastikan hambatan birokrasi dan teknis dapat segera teratasi.
"Dalam persiapannya diperlukan kerja sama semua pihak terkait bukan hanya dari sisi internal Pertamina melainkan juga dukungan pihak lain sehingga PRPP secara aktif berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bappenas, serta Danantara untuk memperoleh arahan dan dorongan terkait percepatan eksekusi proyek ini," pungkasnya.
Baca Juga: Kencana Energi (KEEN) Menangkan Tender PLTA Pakkat 2 Berkapasitas 45 MW dari PLN
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan, kelanjutan kerja sama antara PT Pertamina dengan perusahaan asal Rusia, Rosneft Oil Company, menjadi salah satu fokus yang harus segera diselesaikan.
Bahlil menyebutkan bahwa aspek penting seperti pembebasan lahan sudah rampung, sehingga proyek ini tidak boleh lagi tertunda agar manfaat investasinya bisa segera dirasakan bagi ketahanan energi nasional.
"Memang, saya dalam pertemuan kemarin di Rusia, saya katakan bahwa salah satu isu yang kita harus selesaikan itu adalah kerjasama Pertamina sama Rosnev. Di mana lahannya itu sudah diselesaikan, bahkan investasi JV (joint venture)-nya pun sudah dilakukan," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Bahlil menekankan, kunci utama dari mega proyek ini adalah kecepatan eksekusi. Menurutnya, tanpa ada langkah akselerasi yang nyata, besarnya nilai investasi tersebut hanya akan menjadi sia-sia.
"Tidak akan bisa kita merasakan manfaat dari investasi ini ketika kita tidak melakukan percepatan. Dan mungkin itu bagian sebagai tindak lanjut dari apa yang dilakukan dalam kesempatan kemarin," lanjutnya.
Baca Juga: Dyandra Group Targetkan Perluas Ekosistem Bisnis Tanaman Hias Melalui FLOII Expo 2026
Terkait target spesifik operasional, Bahlil enggan masuk ke ranah teknis yang menjadi wilayah kerja direksi Pertamina, namun ia memastikan akan mengawal ketat progres proyek ini.
"Saya harus jadi PM (project manager), pimpinan proyek Pertamina. Menteri kan enggak boleh bicara terlalu teknis-teknis. Yang penting cepat. Lebih cepat lebih baik," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













