kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

New Balance akan Ekspansi, Apindo: Sektor Alas Kaki Masih Menarik bagi Investor Asing


Senin, 22 Mei 2023 / 10:41 WIB
New Balance akan Ekspansi, Apindo: Sektor Alas Kaki Masih Menarik bagi Investor Asing
ILUSTRASI. Indonesia punya peluang terkait investasi sektor alas kaki dari sisi daya saing.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengomentari rencana ekspansi pembangunan pabrik baru oleh produsen pakaian dan sepatu olahraga New Balance di Cirebon, Jawa Barat.

Sejauh ini, belum diketahui secara resmi nilai investasi pengembangan pabrik New Balance di Tanah Air. Walau demikian, kehadiran pabrik ini diharapkan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, terutama di wilayah Cirebon dan Majalengka.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan, terkait nilai dan realisasi investasi pabrik baru oleh New Balance itu menjadi wewenang perusahaan yang bersangkutan atau pemerintah melalui Kementerian Investasi/BKPM.

Baca Juga: New Balance Akan Bangun Pabrik di Cirebon, Begini Tanggapan Aprisindo

Yang terang, Apindo menilai, rencana ekspansi pabrik New Balance di Indonesia bisa saja dilatarbelakangi oleh peristiwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. '

Perang dagang membuat sejumlah pebisnis global mencari tempat investasi sekaligus peluang pasar baru di negara-negara yang relatif lebih netral dan aman. 

Indonesia pun memiliki keunggulan berupa jumlah tenaga kerja sektor padat karya yang melimpah dan potensi pasar yang besar. 

Apindo menilai, Indonesia dan Bangladesh menjadi dua negara yang saling bersaing untuk menarik investasi di sektor padat karya, terutama yang berkaitan dengan industri tekstil dan alas kaki.

"Indonesia punya peluang terkait investasi sektor alas kaki dari sisi daya saing," imbuh Hariyadi, Minggu (21/5) malam.

Hariyadi menambahkan, berbekal jumlah penduduk dan tenaga kerja yang besar, pemerintah mesti bisa memastikan upah minimum para pekerja industri padat karya kompetitif dan menarik di mata investor global. 

Baca Juga: PT Mitra Adiperkasa Tbk Perluas Jaringan Eksistensi Merek Global di The Grand Outlet

"Faktor upah minimum cukup dominan di industri padat karya. Ini harus diperhatikan supaya banyak tenaga kerja yang terserap ketika investasi masuk ke Indonesia," jelas dia.

Mengutip data BKPM, realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) sektor industri barang dari kulit dan alas kaki tercatat sebesar US$ 214,04 juta pada 2020 (dari 618 proyek). 

Jumlah ini kemudian meningkat menjadi US$ 485,52 juta (292 proyek) pada 2021 dan naik lagi menjadi US$ 630,43 juta (328 proyek) pada 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×