kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Nielsen: Bisnis ritel masih menggiurkan


Kamis, 12 Agustus 2010 / 16:15 WIB


Reporter: Asnil Bambani Amri |

JAKARTA. Besarnya potensi pasar ritel modern di Indonesia rupanya masih mengundang ketertarikan dari pelaku bisnis peritel asing di luar negeri. Maklum, pasar yang besar dan pertumbuhan yang menggiurkan akan membuat sektor ini memiliki daya tarik tersendiri.

“Asing masih tertarik, terutama di sektor supermarket,” kata Teguh Yunanto, Executive Director of Retail Measurement Services, Nielsen di Jakarta, Kamis (12/8).

Untuk sektor supermarket, pemain asing masih memungkinkan untuk masuk Indonesia; namun untuk minimarket, masih masih dilarang oleh kebijakan pemerintah. “Potensinya itu masih gede, sehingga masih diincar,” kata Teguh.

Menurut Teguh, banyak investor asing yang tertarik untuk menanamkan dananya di supermarket Indonesia. Tahun ini, Lotte Mart baru saja menancapkan bisnisnya di Indonesia setelah mengakuisisi pusat grosir Makro. Sebaliknya terjadi pada Carrafour yang kepemilikan sahamnya diambil alih oleh perusahaan dalam negeri. Sementara untuk sektor minimarket, pemain besar selain Alfa, Indomart dan Circle K, terdapat juga 7 Eleven yang baru terjun sejak tahun 2009.

Walaupun 7 Eleven mengaku bukan jenis minimarket, tetapi sektor ini masih akan menikmati pertumbuhan omzet, karena membaiknya daya beli dari masyarakat. ”Perbaikan daya beli untuk sektor ritel modern ini bisa double digit,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×