kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.909   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.145   -48,07   -0,78%
  • KOMPAS100 792   -4,34   -0,55%
  • LQ45 606   -2,13   -0,35%
  • ISSI 215   -2,63   -1,21%
  • IDX30 336   -1,55   -0,46%
  • IDXHIDIV20 430   -1,49   -0,35%
  • IDX80 90   -0,52   -0,57%
  • IDXV30 117   -0,82   -0,70%
  • IDXQ30 110   -0,18   -0,16%

Okupansi Capai 87%, SCBD Jadi Lokomotif Pemulihan Pasar Perkantoran Jakarta


Rabu, 07 Oktober 2026 / 14:53 WIB
Okupansi Capai 87%, SCBD Jadi Lokomotif Pemulihan Pasar Perkantoran Jakarta
ILUSTRASI. Tingkat okupansi ruang kantor di SCBD capai 87% di kuartal III-2026, lebih tinggi dibanding rata-rata koridor perkantoran utama lainnya di Jakarta (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) menjadi salah satu penggerak pemulihan pasar perkantoran Jakarta.

Berdasarkan laporan Colliers pada kuartal III-2026, tingkat okupansi ruang kantor di SCBD telah mencapai 87%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata koridor perkantoran utama lainnya di Jakarta.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta saat ini berjalan dengan kecepatan berbeda antar kawasan. SCBD menjadi salah satu kawasan yang pulih lebih cepat karena memiliki kombinasi gedung berkualitas, akses transportasi publik, serta fasilitas yang terintegrasi.

"Pertanyaannya, kenapa SCBD bisa pulih lebih awal? Ini bukan semata-mata karena lokasinya. SCBD menawarkan kombinasi yang semakin dicari tenant, banyak gedung berkualitas, akses transportasi publik MRT, ada pusat perbelanjaan, hotel, dan fasilitas terintegrasi dalam satu kawasan," ujar Ferry, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga: Rupiah Melemah, Permintaan Apartemen Jakarta Justru Naik, Ini Penyebabnya

Meski demikian, pasar perkantoran Jakarta secara keseluruhan masih dibayangi kelebihan pasokan. Colliers mencatat total ruang kantor kosong mencapai sekitar 3 juta meter persegi. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,75 juta meter persegi berada di kawasan central business district (CBD) dan 1,26 juta meter persegi di luar CBD.

Namun, pasokan ruang kosong tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan ruang yang diminati penyewa. Untuk gedung premium di SCBD, misalnya, ruang yang tersedia hanya sekitar 128.000 meter persegi. Sementara itu, ruang kosong gedung grade A di kawasan CBD masih mencapai sekitar 873.000 meter persegi.

"Intinya Jakarta itu belum kekurangan ruang kantor, tapi mulai kekurangan ruang kantor yang memang diminati. Permintaan makin mengarah ke gedung berkualitas yang memenuhi standar green building dan kebutuhan ESG perusahaan," kata Ferry.

Menurut dia, pola permintaan ruang kantor juga mulai berubah. Aktivitas downsizing yang marak dilakukan perusahaan setelah pandemi kini semakin berkurang. Sebaliknya, permintaan lebih banyak berasal dari relokasi atau flight to quality, yakni perpindahan perusahaan ke gedung dengan kualitas yang lebih baik.

Selain relokasi, permintaan juga datang dari ekspansi selektif sejumlah sektor seperti energi, teknologi, logistik, dan consumer goods.

Kondisi tersebut mulai meningkatkan posisi tawar pemilik gedung premium. Ferry menyebut sejumlah aset premium di SCBD yang memiliki tingkat okupansi di atas 90% mulai memiliki bargaining power untuk mempertahankan tarif sewa sekaligus mengurangi pemberian insentif kepada penyewa.

Baca Juga: Targetkan Cakupan 5G di 101 Kota, XLSMART (EXCL) Gelontorkan Capex Rp 20 Triliun

Persaingan antar gedung perkantoran pun kini tidak hanya ditentukan oleh tarif sewa. Penyewa semakin memperhitungkan total cost of occupancy, mulai dari biaya sewa, service charge, belanja modal untuk fit-out, hingga fleksibilitas waktu perpindahan.

Dalam kondisi tersebut, ruang kantor yang sudah dilengkapi fasilitas atau fitted and furnished menjadi semakin menarik bagi penyewa.

Meski tarif sewanya dapat lebih tinggi dibandingkan ruang kosong, skema tersebut dapat menekan kebutuhan upfront capital expenditure (capex) perusahaan karena penyewa tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun dan melengkapi ruang kantor sejak awal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×