Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar properti perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta menunjukkan pemulihan secara bertahap pada paruh pertama 2026.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi di tingkat lokal, regional, maupun global, tingkat hunian dan harga sewa ruang kantor terus mengalami peningkatan, sementara pasokan tetap tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, mengatakan sektor perkantoran menjadi salah satu tolok ukur utama dalam menilai performa properti komersial.
Baca Juga: Pengusaha dan Ekonom Beberkan Proyeksi Ekspor & Harga Batubara pada Semester II-2026
Kinerja sektor ini tidak hanya mencerminkan dinamika pasar properti, tetapi juga menjadi indikator arus investasi, ekspansi dunia usaha, serta penciptaan lapangan kerja.
“Belum termasuk multiplier effect yang dihasilkan dan berkontribusi dalam mendorong berbagai sektor turunan,” ungkap Willson, dalam keterangannya, Kamis (6/8).
Berdasarkan data Knight Frank Indonesia, pasokan ruang kantor di CBD Jakarta masih bertahan di kisaran 7.326.495 meter persegi. Di sisi lain, tingkat hunian terus menunjukkan pemulihan dan tercatat meningkat tipis menjadi 80%.
Seiring dengan itu, rerata harga sewa ruang kantor juga terus menguat sebesar 3% secara tahunan (year on year/yoy). Adapun serapan ruang kantor sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai 47.466 meter persegi.
Knight Frank Indonesia mencatat transaksi sewa ruang kantor pada paruh pertama tahun ini tidak hanya berasal dari tenant lama, tetapi juga tenant baru, baik dari perusahaan lokal maupun global. Sementara itu, tenant dari kalangan pemerintah masih mendominasi serapan ruang kantor di kawasan CBD Jakarta.
Tren relokasi juga semakin terlihat di pasar perkantoran. Hal ini dipengaruhi oleh fenomena flight to quality yang masih menjadi pertimbangan utama para penyewa ruang kantor. Gedung perkantoran dengan kualitas dan akses premium, serta fleksibilitas yang ditawarkan pemilik gedung, menjadi pilihan utama para occupier.
Di sisi lain, gedung perkantoran berkonsep green office masih memiliki daya tarik tinggi. Knight Frank Indonesia mencatat stok green office yang mencapai 37% dari total stok perkantoran CBD mampu menarik 41% tenant baru di kawasan tersebut.
Ke depan, potensi permintaan ruang kantor diperkirakan masih datang dari sektor Government, Mining & Oil, IT, Logistic, dan Energy related.
Sementara dari sisi pasokan, Knight Frank Indonesia memperkirakan stok ruang kantor di CBD Jakarta masih akan tetap dalam dua tahun ke depan. Penambahan pasokan baru diperkirakan mulai terjadi pada 2028.
“Ke depan, flexibility dan adaptasi terhadap kualitas green amenities menjadi faktor pembeda. Dengan pasokan yang masih akan tetap dalam 2 tahun kedepan maka tren pemulihan performa perkantoran CBD berpotensi berlanjut, tentu didukung stabilitas sosial dan ekonomi yang lebih kondusif,” tandasnya.
Baca Juga: Beban Operasional Naik, Emiten Konstruksi Perketat Efisiensi dan Seleksi Proyek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
