Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta melanjutkan tren pemulihan pada kuartal II-2026.
Berdasarkan riset JLL Indonesia, tingkat okupansi perkantoran CBD Jakarta meningkat menjadi 72,8% pada kuartal II-2026.
Head of Research JLL Indonesia James Taylor mengatakan, permintaan bersih atau net absorption perkantoran di Jakarta tetap berada di zona positif sepanjang semester I-2026. Namun, kondisi ekonomi dan ketidakpastian politik masih mempengaruhi kecepatan pemulihan pasar perkantoran.
“Permintaan bersih tetap positif sepanjang semester pertama, meskipun kondisi ekonomi dan ketidakpastian politik mempengaruhi kecepatan pemulihan," ujar James, Selasa (18/8/2026).
Baca Juga: Bisnis Parkir Perkotaan Masih Prospektif, Inovasi Jadi Kunci
Menurut dia, tidak adanya pasokan baru di kawasan CBD menjadi salah satu faktor yang terus menopang penyerapan terhadap ruang perkantoran yang sudah tersedia.
Kondisi tersebut juga memberikan dukungan terhadap posisi pemilik gedung di tengah proses pemulihan pasar.
Dari sisi harga sewa, gedung perkantoran Premium dan Grade A mulai mencatat kenaikan secara moderat. Sementara itu, tarif sewa gedung Grade B dan Grade C mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami penurunan pada kuartal-kuartal sebelumnya.
Di luar kawasan CBD, pasar perkantoran non-CBD juga mencatat perkembangan positif. James menyebut, pasar non-CBD membukukan penyerapan tertinggi sejak 2019, dengan sekitar 23.000 meter persegi (sqm).
Penyerapan tersebut didorong oleh penyelesaian dua gedung perkantoran baru di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kedua gedung tersebut menambah sekitar 67.000 sqm pasokan baru ke pasar non-CBD.
Sektor minyak dan gas (migas) menjadi salah satu penggerak utama aktivitas penyewaan di pasar non-CBD pada kuartal II-2026.
Sementara itu, Head of Tenant Representation JLL Indonesia Panji Aziz mengatakan, perkantoran Grade A di kawasan CBD mencatat penyerapan yang konsisten sepanjang kuartal II-2026. Sektor jasa keuangan menjadi sektor yang paling aktif dalam aktivitas penyewaan ruang kantor.
"Sudirman dan SCBD menjadi lokasi paling aktif pada kuartal ini, didorong oleh beberapa aktivitas relokasi oleh perusahaan-perusahaan yang mencari peningkatan terhadap kualitas gedung kantor yang mereka tempati," kata Panji.
Menurut Panji, tren perusahaan yang memilih ruang perkantoran yang sudah dilengkapi furnitur juga masih berlanjut dari kuartal sebelumnya. Sejumlah pemilik properti mempertahankan furnitur yang ditinggalkan penyewa sebelumnya untuk ditawarkan kepada calon penyewa berikutnya.
Baca Juga: Secure Parking Andalkan Flaplock untuk Hadapi Lonjakan Kendaraan
Selain itu, terdapat pula pemilik gedung yang menyediakan ruang kantor dengan furnitur baru maupun memberikan kontribusi fit out dalam bentuk lainnya sebagai bagian dari penawaran kepada calon penyewa.
Dari sisi harga, tarif sewa perkantoran Grade A di kawasan CBD Jakarta mengalami kenaikan 0,05% secara kuartalan pada kuartal II-2026. Namun, pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan kenaikan pada kuartal I-2026.
Panji menilai, sejumlah pemilik properti kini mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dalam menaikkan harga sewa. Pemilik gedung cenderung memprioritaskan stabilitas tingkat okupansi dibandingkan mengejar kenaikan harga sewa secara agresif.
"Meskipun demikian, tidak adanya pasokan baru hingga 2029 terus mendukung posisi pemilik properti di segmen gedung Grade A," ujar Panji.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














