Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pusat belanja (mal) masih mampu menjaga stabilitas di tengah perlambatan ekonomi. Namun, situasinya berbeda pada mal kelas menengah ke atas dan mal kelas menengah ke bawah.
Riset Colliers Indonesia menunjukkan, tingkat keterisian (okupansi) mall di Jakarta masih cenderung stabil di level 73,4% pada kuartal II-2025. Pun, di kawasan Jabodetabek tingkat okupansinya tercatat 68,3%.
Namun, ada perbedaan kontras. Mall premium dengan konsep lifestyle lengkap mulai dari kuliner, hiburan, hingga fesyen mencatat okupansi di atas 80%. Sebaliknya, mal kelas bawah masih kesulitan menjaga okupansi dengan rata-rata okupansi hanya 50–60%.
Baca Juga: Ratusan Hektar Mal di Jabodetabek Kosong Melompong, Apa yang Terjadi?
"Perbedaan terletak pada pengalaman pengunjung. Mal premium lebih dipandang sebagai destinasi gaya hidup ketimbang sekadar tempat belanja," sebut Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam riset yang dikutip Jumat (29/8/2025).
Memang, kestabilan okupansi di atas 50% ini ditopang oleh tingginya permintaan dari sektor food and beverages (F&B) dan penyewa dengan trafik tinggi. Sejumlah merek internasional baru yang masuk, seperti Chagee hingga Pierre Herme mampu mencuri perhatian lewat strategi bundling dan promosi digital agresif.
Meski demikian, Ferry menyebut pengelola mal waspada terhadap ketergantungan berlebihan pada F&B. Untuk menjaga keseimbangan, strategi bauran tenant terus diperbarui, termasuk menghadirkan penyewa non-F&B yang mampu menarik pengunjung.
Baca Juga: Sejumlah Pengusaha Pilih Tak Bangun Mal Baru, Fokus Optimalkan Aset
Tren ini membuat pengusaha kian selektif dalam memilih tenant baru. Mal dengan okupansi sehat mulai melakukan kurasi untuk memastikan merek baru sesuai dengan positioning. Menariknya, minat peritel asal China meningkat, sehingga peluang diversifikasi tenant kian terbuka.
Dengan keterbatasan supply baru dalam waktu dekat, Colliers memproyeksikan tingkat okupansi akan naik sekitar 3% hingga akhir 2025. Nah, momentum ini menjadi peluang bagi pengelola untuk memperkuat strategi kurasi tenant dan meningkatkan daya tarik mal.
Baca Juga: Mal Ramai Transaksi Sepi, Fenomena Rojali–Rohana Mencuat Lagi
Selanjutnya: QRIS Antar Negara Bank Mandiri Kini Bisa Dipakai di Jepang
Menarik Dibaca: Tips Padu Padan Sepatu Biar Gaya Makin Kekinian
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News