Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Riset Colliers Indonesia mencatat tak ada pembukaan pusat perbelanjaan atau mal baru sejak awal tahun. Ketimbang ekspansi, pengusaha mal fokus pada upaya revitalisasi dan peningkatan fasilitas.
Berdasarkan riset Layanan Ritel Colliers Kuartal II-2025, pasokan kumulatif ruang mal di Jakarta masih stabil sejak awal tahun di angka 4,9 juta meter persegi, dengan pasokan di wilayah Jabodetabek sebesar 3,2 juta meter persegi.
Hanya ada dua proyek mal dengan luas total 70.000 meter persegi yang saat ini tengah dikembangkan, terletak di wilayah Jabodetabek. Namun, keduanya ditargetkan baru rampung pada 2026.
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menyebut, saat ini pengusaha memang fokus memperbarui mall yang sudah ada. Dengan kata lain, pengusaha memilih mengembangkan alih-alih menambahkan aset.
“Tren yang berkelanjutan ini berpotensi menghasilkan konsep mal yang lebih inovatif dan tata letak yang beragam,” sebut Ferry dalam riset yang dikutip Kontan, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Bakal Kembangkan Jaringan Mal ke Wilayah Baru
Ferry mencontohkan reposisi sebuah mal di Jakarta yang dialihfungsikan menjadi pusat kendaraan listrik pertama di Indonesia. Sejumlah mal lain pun melakukan pembenahan fisik maupun penyegaran bauran tenant untuk menarik minat pengunjung.
Menurut catatan Kontan, sejumlah perusahaan besar macam PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) memang memilih tak membangun mal baru tahun ini. Namun, keduanya menunjukkan kinerja yang berbeda.
Pendapatan bisnis mal CTRA turun 3,09% secara tahunan menjadi Rp 369,75 miliar pada semester I-2025, PLIN justru berhasil tumbuh sebesar 4,11% secara tahunan menjadi Rp 247,53 miliar dalam periode yang sama.
Pun PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang melakukan rebranding Plaza Semanggi menjadi Lippo Mall Nusantara dalam periode ini. Pendapatan bisnis mall LPKR tumbuh 7,63% secara tahunan menjadi Rp 96,56 miliar.
Ferry menilai langkah menahan ekspansi merupakan strategi adaptif pengusaha. Pasalnya, permintaan diproyeksikan hanya bertumbuh 3% per tahun hingga 2028, sementara suplai naik sekitar 2% per tahun. Minimnya tambahan ruang mall dapat menciptakan keseimbangan supply-demand.
“Lagipula, wilayah Jabodetabek berpotensi tetap menjadi lahan subur untuk proyek ritel di masa depan, didukung oleh meningkatnya permintaan di pinggiran kota,” tandas Ferry.
Baca Juga: Jakarta Bakal Kedatangan 4 Mal Baru Tahun Ini, di Mana Saja Lokasinya?
Selanjutnya: Ada Insentif Pajak, Pemprov DKI Rogoh Rp 2,7 Triliun untuk per Juli 2025
Menarik Dibaca: Promo Superindo Hari Ini 29-31 Agustus 2025, Telur Omega-Kecap Indofood Harga Spesial
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News